Kartu Indonesia Sehat
KIS memberikan jaminan pada pemegangnya untuk mendapat manfaat
pelayanan kesehatan seperti yang dilaksanakan dalam Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN). Ini bertujuan untuk meringankan beban masyarakat miskin terhadap
kesehatan. KIS akan diberikan kepada anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
sehingga tidak menggeser Sistem JKN. Dalam pelaksanaannya, pemerintah telah
menunjuk BPJS Kesehatan sebagai penyelenggaranya.
“KIS hanya kartunya, dan tidak akan
menggantikan JKN. Bahkan para anggota JKN yang memegang KIS akan mendapatkan
sejumlah benefit, salah satunya edukasi,” kata Menteri Kesehatan, Nila Moeloek.
Adapun keluarga miskin yang menjadi
penerima bantuan iuran JKN, yaitu sebanyak 86,4 jiwa, akan tetap ditanggung
dengan Kartu Indonesia Sehat. Namun, anak dari keluarga miskin bisa langsung
menggunakan Kartu Indonesia Sehat tanpa harus mendaftar lagi.
Jumlah penerima KIS bertambah karena
juga menanggung penyandang masalah kesejahteraan sosial yang selama ini tak
masuk data penerima bantuan iuran seperti para gelandangan yang ada di bawah
jembatan.
Pada tahap pertama sampai akhir 2014
itu, KIS akan dibagikan ke 19 provinsi. Sedangkan provinsi lainnya akan
disalurkan pada tahap selanjutnya. Pada 2015, diharapkan seluruh penduduk
prasejahtera di Indonesia sudah memiliki kartu tersebut. Pendistribusian akan
dibantu oleh PT Pos Indonesia dan perbankan nasional yaitu Bank Mandiri.
Bagaimana cara menggunakannya? Ternyata
sangat mudah, pemilik kartu hanya tinggal menunjukkan Kartu Indonesia Sehat
saat sedang berobat di puskemas dan rumah sakit.
Terkait dengan biaya premi KIS, Direktur
Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Akmal Taher mengatakan,
untuk saat ini biaya premi di Kartu Indonesia Sehat sama dengan JKN.
“Sama untuk
preminya karena sementara ini memakai anggaran 2014,” ujar Akmal seperti
dikutip Tempo, Minggu
(02/11/2014) kemarin. Karena itu, biaya untuk menanggung mereka yang ikut dalam
KIS tidak berubah sampai akhir 2014. “Sesuai anggaran,” ujar dia.
Biaya premi yang dibayarkan masyarakat
di JKN akan sama dengan KIS. JKN terbagi dalam tiga kelas, yakni Kelas 1 dengan
harga Rp 59.500, kelas 2 Rp 42.500, dan kelas 3 Rp 25.500. “Jadi, sementara
akan sama,” kata dia. Masyarakat akan membayar harga sesuai kelas mana dan
kesanggupan mereka membayar premi per bulan.
Untuk selanjutnya, Akmal masih belum
mengetahui apakah biaya premi tersebut akan ditambahkan pada 2015. “Sesuai
dengan anggaran 2015 berarti,” kata dia. Harapannya agar anggaran untuk program
KIS, KIP, dan KKS bertambah sehingga masyarakat prasejahtera secara merata
dapat merasakan program pemerintah ini.
Kartu Keluarga Sejahtera
Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)
menggunakan anggaran sebesar Rp 6,2 triliun dan setiap keluarga akan
mendapatkan Rp 200 ribu per bulan. Kartu ini akan diisi setiap 2 bulan.
Sebelumnya, pemerintahan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono juga bernah meluncurkan Kartu Perlindungan Sosial dalam
rangka Program Percepatan dan Perluasan Sosial (P4S). Dengan memiliki KPS,
rumah tangga berhak menerima program-program perlindungan sosial, seperti :
Raskin dan Bantuan Siswa Miskin (BSM), sesuai dengan ketentuan yang berlaku
hingga tahun 2014.
Kini, para pemilik Kartu Perlindungan
Sosial diminta untuk menukarkan kartunya dengan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS),
Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), serta sim card
(kartu HP) yang berisi uang elektronik. Jika KPS hilang atau rusak, bawa
identitas lain dan surat keterangan dari kepala desa/lurah saat penukaran.
“KKS adalah
pengganti KPS, berfungsi sebagai penanda keluarga kurang mampu,” bunyi
penjelasan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang
menjadi pengawas ‘kartu sakti’ ini, seperti dikutip dari website http://www.tnp2k.go.id, Senin (3/11/2014).
Dikuti DetikNews, setiap kepala
keluarga akan mendapat KKS dan 1 SIM card untuk diaktifkan pada HP yang mereka
miliki. Nomor telepon di SIM tersebut juga berfungsi ganda sebagai nomor
rekening untuk penyaluran Simpanan Keluarga Sejahtera (KKS).
Setiap keluarga mendapat dana Rp 200
ribu per bulan yang disalurkan melalui nomor rekening tersebut. Nantinya, warga
bisa melihat penyaluran dana tersebut melalui aplikasi *141*6# dari ponsel
mereka.
Mensos (Menteri Sosial), Khofifah Indar
Parawansa mengatakan, secara bertahap KIS akan diperluas cakupannya meliputi
penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Warga yang tidak teregister
seperti anak jalanan dan gelandangan serta pengemis (pengemis) serta yang
tinggal di panti akan mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu
Keluarga Sejahtera (KKS).
“Saat ini pendekatannya lebih individual
kalau 2011 dengan pendekatan Rumah Tangga Sangat Miskin,” kata Khofifah di
Jakarta, Senin (03/11/2014).
Dikutip Republika, Khofifah
mengatakan, selama ini bantuan yang diberikan pemerintah berbasis pada
identitas yaitu hanya mereka yang mempunyai identitas diri atau kartu keluarga.
Lebih lanjut Khofifah menjelaskan,
jumlah mereka yang tidak terdaftar sebanyak 1,7 juta jiwa seperti gepeng dan
orang yang tinggal di panti. “Sampai Desember nanti ada 400 ribu jiwa yang
mendapatkan KIS dan KKS,” tambah Khofifah.
Program KKS DIPA berasal dari Kemensos
namun anggaran dari Bendahara Umum Negara sebesar Rp 6,4 triliun dengan rincian
Rp 6,2 triliun untuk KKS dan Rp 199 miliar untuk mencetak kartu dan
pendistribusiannya.
Kartu Indonesia Pintar
Kartu Indonesia Pintar adalah kartu yang ditujukan bagi
keluarga miskin dan rentan miskin yang ingin menyekolahkan anaknya secara
gratis.
Selain itu, Kartu Indonesia Pintar juga akan menjangkau anak-anak yang berada di luar sekolah misalnya anak jalanan, dan anak putus sekolah, yatim piatu, dan difabel.
”Dengan kartu ini kita mengimbau
kepada sekolah untuk menerima kembali anak yang tidak bersekolah," ujar
Menteri Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan dilansir dari situs
Kemendikbud.go.id, Senin (3/11/2014).
Agar anak-anak yang tidak mendapat pendidikan formal juga bisa mendapat
pendidikan keterampilan, KIP ini akan berlaku untuk
balai-balai latihan kerja. Penerima kartu ini hanya tinggal menunjukkan Kartu Indonesia Pintar ke pihak sekolah dan balai-balai
latihan.
KIP pada fase pertama akan diterapkan pada
18 provinsi kabupaten kota, dengan sasaran 152.434 siswa di jenjang SD, SMP, SMA/SMK. Dia memastikan jumlah tersebut akan bertambah karena data tersebut
menggunakan data Bantuan Siswa Miskin (BSM).
"Kalau BSM 18 juta penerima bantuan, kalau Kartu Indonesia Pintar bisa
24 juta penerima bantuan," kata Anies.
KIP akan didistribusikan secara bertahap di
18 lokasi kabupaten/kota di Indonesia. Lokasi tersebut adalah Jembrana,
Pandeglang, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur,
Jakarta Utara, Cirebon, Bekasi, Kuningan, Semarang, Tegal, Banyuwangi,
Surabaya, Balikpapan, Kupang, Mamuju Utara, dan Pematang Siantar.
Namun, untuk saat ini KIP
masih belum bisa digunakan karena dananya belum cair.
Menurut informasi yang
beredar, KIP
baru bisa digunakan mulai tahun 2015.
No comments:
Post a Comment
Setelah baca Tolong kasih komentarnya ya!