Vokal manusia seperti halnya instrumen musik pada umumnya
memiliki empat elemen pokok penghasil bunyi, yaitu :
1. Paru-paru, sebagai sumber tenaga
2. Larynz, sebagai penggetar
3. Pharynz, sebagai ruang pemantul tenggorokan, rongga mulut, dan
4. rongga hidung,sebagai ruang resonator.
Tubuh kita dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan suara yang
baik. Pada saat kita bernyanyi, sumber tenaga yang befungsi untuk menggetarkan
vibrator adalah udara. Udara tersebut kita hirup dan keluarkan melalui teknik
pernafasan diafragma dan bukannya dada, bahu ataupun perut.
Bila bunyi pada gitar dan biola dihasilkan oleh dawai yang bergetar, maka
pada vokal manusia yang menjadi
instrumen getarnya adalah pita suara. Pita suara berada di dalam kotak suara yang terbuat dari otot dan tulang rawan yang terletak pada bagian atas batang tenggorokan (larynx). Larynx memiliki panjang lima belas sentimeter dan lebar empat sentimeter. Pita suara merupakan selaput lentur dengan panjang berkisar di antara dua sentimeter (pria) hingga satu seperempat sentimeter (wanita). Suara yang baik hanya akan dihasilkan apabila selaput suara tadi bergerak merapat hingga membentuk celah sempit yang bergetar yang disebut dengan glottis.
instrumen getarnya adalah pita suara. Pita suara berada di dalam kotak suara yang terbuat dari otot dan tulang rawan yang terletak pada bagian atas batang tenggorokan (larynx). Larynx memiliki panjang lima belas sentimeter dan lebar empat sentimeter. Pita suara merupakan selaput lentur dengan panjang berkisar di antara dua sentimeter (pria) hingga satu seperempat sentimeter (wanita). Suara yang baik hanya akan dihasilkan apabila selaput suara tadi bergerak merapat hingga membentuk celah sempit yang bergetar yang disebut dengan glottis.
Alat pemantul yang terdapat dalam tubuh kita lazim disebut pharynx. Pharynx
merupakan ruangan di balik anak tekak yang dapat diperbesar/ diperkecil secara
elastis. Pharynx berfungsi memberikan warna suara dan huruf vokal yang beraneka
ragam.
Berkaitan dengan tiga resonator vokal yang memberikan kontribusi paling
signifikan, yakni: tenggorokan, mulut dan hidung, maka ada beberapa catatan
yang perlu diperhatikan :
1.
Suara gelap, seakan-seakan “ditelan” dan berkesan jauh diakibatkan oleh konsentrasi
suara yang terlalu banyak terfokus pada resonator tenggorokan
2.
Suara terang, lebar dan memiliki fokus ke depan diakibatkan oleh konsentrasi suara yang
terlalu banyak terfokus pada resonator mulut
3.
Suara sengau, diakibatkan konsentrasi suara yang terlalu terfokus pada resonator
hidung.
Jadi dengan kata lain menggunakan kombinasi ketiga resonator tersebut
secara proporsional merupakan suatu keputusan yang bijak.
Posisi lidah yang baik pada saat bernyanyi sebaiknya datar dan berada di
belakang lengkung gigi bawah.
Bernyanyi dalam posisi duduk/berdiri yang benar, yaitu :
1. Mencari posisi berdiri yang paling nyaman dengan berat tubuh bertumpu rata
pada kedua kaki,
2. Sedapat mungkin membentuk garis lurus dari titik tengah kedua tumit hingga
kepala
3.
Jangan mengencangkan otot-otot betis atau bertumpu pada kedua tumit
4.
Kedua lutut harus terasa longgar dan dapat bergerak dengan bebas
5.
Perut bagian bawah (di bawah pinggang hingga pinggul) harus sedikit ditarik
ke dalam tanpa dipaksakan. Bilamana perut bagian bawah bergerak terlalu ke
depan maka menyebabkan badan menjadi melengkung
6.
Perut bagian atas (pinggang hingga tulang rusuk) sangat penting untuk
pernafasan, karena itu perut bagian atas harus terasa bergerak bebas. Perut
bagian atas yang terlalu ditarik ke dalam atau didorong keluar secara
berlebihan dapat menyebabkan ketegangan. Ketegangan ini pada akhirnya akan
mengganggu proses pernafasan yang kita takukan
7.
Posisi punggung haruslah lurus sehingga tulang belakang akan terangkat
8.
Dada harus dalam posisi tegap tanpa dipaksakan dengan catatan bahwa dada
tidak boleh bergerak naik dan turun pada waktu kita mengambil dan mengeluarkan
nafas
9.
Bahu harus ditarik sedikit ke belakang, dan selama bernafas atau bernyanyi
bahu tidak boleh bergerak. Posisi bahu yang tidak bergerak akan membantu banyak
dalam mempertahankan sikap dada yang lapang serta tulang belakang yang
terangkat
10. Kedua lengan harus
dapat bergerak dengan bebas dan tidak terasa kaku
11. Hindari
gerakan-gerakan yang mencerminkan rasa gugup seperti menggosok¬-gosokkan ibu
jari, mengepalkan tangan, meraba-raba pakaian, mengusap-usap rambut dan
sebagainya
12. Hindari kebiasaan
mengangkat dagu saat membidik nada tinggi.
Beberapa latihan
praktis untuk membentuk sikap tubuh yang baik :
1.
Sikap berdiri/duduk yang tegak (bayangkan diri anda sebagai seorang raja
atau ratu yang tengah berjalan dengan angkuh)
2.
Kedua tumit tidak saling menempel
3.
Kedua kaki terpisah dengan jarak kurang lebih 15 cm. Salah satu kaki dapat
diletakkan di sebelah depan dengan jari-jari kaki dalam posisi normal
4.
Secara perlahan bersandar ke depan pada telapak kaki dan kemudian kembali
ke posisi semula yaitu pada tumit. Temukan posisi berdiri yang terbaik dengan
mencari titik tengah diantara tumit dan telapak kaki
5.
Tundukkan kepala hingga menyentuh dada dan perhatikan bahwa antara leher
dan tulang belakang sekarang terpisah
6.
Membayangkan kepala seolah-olah tergantung di langit-langit kamar dan
terlepas dari tubuh
7.
Memutar kepala ke kiri dan ke kanan dengan tujuan melemaskan persendian
leher
8.
Menggerakkan lengan secara terpisah, seolah-olah sedang mengibas-ngibaskan
air pada telapak tangan dan lengan
9.
Menggerakkan kaki, seolah-olah sedang mengibas-ngibaskan air pada telapak
kaki
10. Melompat dengan tujuan
mengendurkan semua ketegangan pada persendian dan otot
Proses Produksi Suara Manusia
http://dejavu-anakselatan.blogspot.com/2011/01/proses-produksi-suara-manusia.html
Proses produksi suara
pada manusia dapat dibagi menjadi tiga buah proses fisiologis, yaitu :
pembentukan aliran udara dari paru-paru, perubahan aliran udara dari paru-paru
menjadi suara, baik voiced,
maupun unvoiced yang
dikenal dengan istilah phonation,
dan artikulasi yaitu proses modulasi/ pengaturan suara menjadi bunyi yang
spesifik.
Organ tubuh yang terlibat pada proses produksi suara adalah
: paru-paru, tenggorokan (trachea),
laring (larynx), faring (pharynx), pita suara (vocal cord), rongga mulut (oral cavity), rongga hidung (nasal cavity), lidah (tongue), dan bibir (lips), seperti dapat dilihat pada
gambar diatas!
Organ tubuh ini dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian
utama, yaitu : vocal
tract (berawal di awal bukaan pita suara atau glottis, dan berakhir
di bibir), nasal tract (dari
velum sampai nostril), dan source
generator (terdiri dari paru-paru, tenggorokan, dan larynx). Ukuran vocal tract bervariasi untuk setiap
individu, namun untuk laki-laki dewasa rata-rata panjangnya sekitar 17 cm. Luas
dari vocal tract juga bervariasi antara 0 (ketika seluruhnya tertutup) hingga
sekitar 20 cm2. Ketika velum,
organ yang memiliki fungsi sebagai pintu penghubung antara vocal tract dengan nasal tract, terbuka, maka secara
akustik nasal tract akan
bergandengan dengan vocal tract untuk menghasilkan suara nasal.
Aliran udara yang dihasilkan dorongan otot paru-paru
bersifat konstan. Ketika pita suara dalam keadaan berkontraksi, aliran udara
yang lewat membuatnya bergetar. Aliran udara tersebut dipotong-potong oleh
gerakan pita suara menjadi sinyal pulsa yang bersifat quasi-periodik. Sinyal pulsa
tersebut kemudian mengalami modulasi frekuensi ketika melewati pharynx, rongga mulut ataupun pada
rongga hidung. Sinyal suara yang dihasilkan pada proses ini dinamakan sinyal voiced. Namun, apabila pita suara
dalam keadaan relaksasi, maka aliran udara akan berusaha melewati celah sempit
pada permulaan vocal tract sehingga alirannya menjadi turbulen, proses ini akan
menghasilkan sinyal unvoiced.
Ketika sumber suara melalui vocal
tract, kandungan frekuensinya mengalami modulasi sehingga terjadi
resonansi pada vocal
tract yang disebut formants.
Apabila sinyal suara yang dihasilkan adalah sinyal voiced, terutama vokal, maka pada selang waktu yang
singkat bentuk vocal
tract relative konstan (berubah secara lambat) sehingga bentuk vocal tract dapat diperkirakan dari
bentuk spektral sinyal voiced.
Aliran udara yang melewati pita suara dapat dibedakan menjadi
phonation,
bisikan, frication,
kompresi, vibrasi ataupun kombinasi diantaranya. Phonated excitation
terjadi bila aliran udara dimodulasi oleh pita suara. Whispered excitation dihasilkan
oleh aliran udara yang bergerak cepat masuk ke dalam lorong bukaan segitiga
kecil antara arytenoids
cartilage di belakang pita suara yang hampir tertutup. Frication excitation dihasilkan
oleh desakan di vocal tract. Compression
excitation dihasilkan
akibat pelepasan udara melalui vocal tract yang tertutup dengan tekanan tinggi.
Vibration excitation
disebabkan oleh udara yang dipaksa memasuki rusang selain pita suara, khususnya
lidah. Suara yang dihasilkan oleh Phonated
excitation disebut
voiced. Suara
yang dihasilkan oleh Phonated
excitation
ditambah frication disebut
mixed voiced, sedangkan yang dihasilkan
oleh selain itu disebut unvoiced.
Karakteristik suara tiap individu bersifat unik karena terdapat perbedaan dalam
hal panjang maupun bentuk vocal tract.
Pengenalan
Suara pada Manusia
Pada sistem pengenalan suara oleh manusia terdapat tiga
organ penting yang saling berhubungan yaitu : telinga yang berperan sebagai
transduser dengan menerima sinyal masukan suara dan mengubahnya menjadi sinyal
syaraf, jaringan syaraf yang berfungsi mentransmisikan sinyal ke otak, dan otak
yang akan mengklasifikasi dan mengidentifikasi informasi yang terkandung dalam
sinyal masukan.
Karakteristik Telinga
Telinga terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian luar,
tengah, dan dalam.
Pinna, sebagai bagian luar telinga, berfungsi sebagai
corong, untuk mengumpulkan sinyal suara menuju auditory canal sehingga dapat memberikan kesan arah
sinyal suara yang diterima.
Auditory
canal adalah struktur berbentuk pipa lurus sepanjang 2,7 cm, dengan
diameter sekitar 0,7 cm, yang pada bagian ujungnya terdapat selaput membrane,
yaitu gendang telinga. Membran ini merupakan pintu masuk telinga bagian
tengah, yaitu ruangan berisi udara dengan volume sebesar 2 cm3, yang
terdiri dari tiga buah tulang, yaitu malleus
(martil), incus (landasan),
dan stapes
(sanggurdi). Bagian ini terhubung dengan tenggorokan melalui Eustachian tube. Getaran pada
gendang telinga ditransmisikan ke malleus
melalui incus, dan stapes, yaitu membentuk oval window.
Telinga bagian dalam (labyrinth)
memiliki tiga bagian, yaitu vestibule
(ruang pintu masuk), semicular
canal, dan cochlea.
Vestibule
terhubung dengan telinga bagian tengah melalui dua jalur, yaitu oval window, dan round window. Keduanya tertutup
untuk mencegah keluarnya cairan yang mengisi telinga telinga bagian dalam. Pada
cochlea, yang
berstruktur seperti rumah siput, terdapat syaraf pendengaran. Syaraf ini
memanjang sampai ke basilar
membrane. Pada bagian atas basilar
membrane terdapat organ of
corty yang memiliki empat baris sel rambut (sekitar 3 x 104
sel seluruhnya).
Proses pendengaran
Proses pendengaran pada telinga manusia dijelaskan sebagai
berikut :
- Sinyal suara memasuki saluran telinga dan variasi tekanan yang dihasilkannya menekan gendang telinga. Karena sisi bagian dalam dari gendang telinga mempunyai tekanan yang nilainya dijaga konstan maka gendang telinga akan bergetar.
- Getaran dari gendang telinga disalurkan pada tiga rangkaian tulang yaitu; martil, incus dan stapes. Mekanisme ini dirancang untuk mengkopel variasi suara dari udara luar ke telinga bagian dalam. Karena luas permukaan penampang yang ditekan stapes lebih kecil dari luas penampang gendang telinga maka tekanan suara yang sampai ke telinga bagaian dalam bertambah besar.
- Cairan pada cochlea bergetar dengan frekuensi yang sama dengan gelombang yang datang. Basilar membrane kemudian memisahkan sinyal berdasarkan frekuensinya. Basilar membrane berstruktur kuat dan panjang di daerah sekitar oval window namun bersifat lentur pada bagian ujungnya. Frekuensi resonansi yang dihasilkan membrane tersebut berbeda sepanjang dimensi basilar membrane. Dimana resonansi frekuensi tinggi terjadi pada bagian bagian basilar membrane yang berada dekat dengan oval window, sedangkan resonansi frekuensi rendah terjadi pada daerah ujung lainnya. Syaraf yang berada pada mambran kemudian mendeteksi posisi terjadinya resonansi yang juga akan menentukan frekuensi suara yang datang. Ukuran dari basilar membrane rata-rata sekitar 35 mm. Dari ukuran panjang tersebut dapat dihasilkan 10 resolusi frekuensi, sehingga pada setiap 3.5 mm panjang membran terdapat 1 oktaf frekuensi resonansi.
Sinyal Suara Ucapan
Sinyal suara ucapan manusia dapat dipandang sebagai sinyal
yang berubah lambat terhadap waktu (slowly time varying signal), jika diamati
pada selang waktu yang singkat yaitu 5-100 ms. Pada selang waktu tersebut,
katakteristik sinyal suara ucapan dapat dianggap stasioner. Untuk selang waktu
yang lebih panjang (dengan orde 0.2 detik atau lebih), karakteristik sinyal
berubah untuk merefleksikan suara berbeda yang diucapkan.
Klasifikasi berdasarkan sinyal eksitasi
Berdasarkan sinyal eksitasi yang dihasilkan pada proses
produksi suara, sinyal suara ucapan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu
silence, unvoiced, dan voiced:
1. Sinyal silence
: sinyal pada saat tidak terjadi proses produksi suara ucapan, dan sinyal yang
diterima oleh pendengar dianggap sebagai bising latar belakang.
2. Sinyal unvoiced
: terjadi pada saat pita suara tidak bergetar, dimana sinyal eksitasi berupa
sinyal random.
3. Sinyal voiced
: terjadi jika pita suara bergetar, yaitu pada saat sinyal eksitasi berupa
sinyal pulsa kuasi-periodik. Selama terjadinya sinyal voiced ini, pita suara
bergetar pada frekuensi fundamental – inilah yang dikenal sebagai pitch dari suara tersebut.
Analisis
Sinyal Ucapan
Informasi yang terdapat di dalam sebuah sinyal ucapan dapat
dianalisis dengan berbagi cara. Beberapa peneliti telah membagi beberapa level
pendekatan untuk menggambarkan informasi tersebut, yaitu level akustik,
fonetik, fonologi, morfologi, sintatik, dan semantik.
1. Level Akustik
Sinyal ucapan merupakan variasi tekanan udara yang
dihasilkan oleh sistem artikulasi. Untuk menganalisa aspek-aspek akustik dari
sebuah sinyal ucapan, dapat dilakukan dengan transformasi dari bentuk sinyal
ucapan menjadi sinyal listrik dengan menggunakan tranduser seperti microphone, telepon, dan
sebagainya. Setelah melalui berbagai pengolahan sinyal digital, maka akan di
peroleh informasi yang menunjukkan sifat-sifat akustik dari sinyal ucapan
tersebut yang meliputi frekuensi fundamental (F0), intensitas, dan distribusi
energi spektral.
2. Level Fonetik
Level ini menggambarkan bagaimana suatu sinyal suara
diproduksi oleh organ-organ di dalam tubuh manusia.
3. Level Fonologi
Di dalam level ini, dikenal istilah fonem yang merupakan
unit terkecil yang membentuk sebuah kalimat atau ucapan. Deskripsi ini
memuat informasi durasi, intensitas, dan pitch
dari fonem-fonem yang membangun kalimat tersebut.
- Level Morfologi
Susunan
beberapa fonem akan menghasilkan kata. Morfologi menggambarkan berbagai bentukan
kata yang terdiri atas awalan (prefiks), sisipan (infiks), dan akhiran
(sufiks).
- Level Sintatik
Aspek
sintatik berfungsi untuk mengatur susunan kata agar membentuk kalimat yang
benar.
- Level Semantik
Sebuah
kalimat bisa jadi tidak mengandung makna sama sekali sehingga seringkali harus
dibuat aturan dasar dalam menyusun kalimat yang bisa menghasilkan makna
tertentu. Tujuan dari aspek semantik ini adalah untuk meneliti makna kata
tertentu di dalam kalimat dan kaitannya satu sama lain.[5]
Pada penelitian ini untuk level morfologi, sintatik, dan
semantik diabaikan karena penelitian ini hanya menekankan pada analisis
karakter suara yang berkaitan dengan parameter-parameter fisis seperti
frekuensi fundamental(F0), durasi fonem dan intensitas suara.
Intonasi
Sebagai Aspek Akustik Sinyal Ucapan
Intonasi (prosodi) sebagai aspek akustik sinyal suara sangat
membantu di dalam mengidentifikasi setiap segmen akustik dengan fonem. Setiap
fonem dihasilkan terutama oleh sistem vokal selama artikulasi yang selanjutnya
mempengaruhi dinamika spektrum spektral suara (dalam hal ini formant).
Pengucapan suatu kata dapat secara substansial bervariasi di dalam intonasinya
mempengaruhi idetitas kata. Fonem dapat menjadi panjang atau pendek, keras atau
lemah, dan memiliki pola pitch
(nada) yang bervariasi.
Fenomena intonasi dapat direpresentasikan ke dalam beberapa
level antara lain adalah sebagai berikut :
- Level Akustik
Terdiri atas
beberapa komponen penting yaitu Frekuensi Fundamental (F0), amplitudo, dan
durasi sinyal.
- Level Perseptual
Merepresentasikan
fenomena intonasi sebagaimana yang didengar oleh pendengarnya. Beberapa
komponennya antara lain pitch
(nada), keras atau lemahnya suara, dan panjang atau pendeknya
suara.
- Level Bahasa (Linguistik)
Merepresentasikan
fenomena prosodi ke dalam bentuk simbol atau tanda. Beberapa komponennya antara
lain bunyi (tone), intonasi, dan aspek tekanan.
Menonjolkan suku kata yang mendapat tekanan terhadap suku
kata yang lain yang tidak mendapat tekanan adalah fungsi utama sebuah intonasi
(prosodi). Suku kata yang mendapat tekanan menjadi lebih panjang, lebih intens,
dan memiliki pola F0 yang menyebabkan mereka lebih menonjol dibanding
suku kata lainnya.
Parameter-parameter
yang diperlukan dalam
Pengidentifikasian
Suara Manusia
Pitch
Pitch
digunakan sebagai standar tinggi-rendah dari sebuah tone atau suara. Sinyal suara umumnya merupakan proses
secara fisis yang terdiri dari dua bagian: yaitu sebagai hasil dari sumber
suara (pita suara) dan sebagai hasil dari penyaringan (oleh lidah, bibir, dan
gigi). menganalisa pitch
berarti mencoba untuk menangkap frekuensi dasar sumber bunyi dari keseluruhan
proses pengucapan suara. Frekuensi dasar sendiri merupakan frekuensi yang
dominan yang dikeluarkan oleh sumber bunyi. Frekuensi dasar merupakan parameter
paling kuat untuk mengetahui korelasi bagaimana suatu suara diterima oleh
pendengar ditinjau dari segi intonasi dan tekanan suaranya.
Formant
Frekuensi fundamental dikenal juga dengan F0 yang koheren
dalam bentuk transisi formant F1, F2, dan sebagainya. Komponen frekuensi
dominan yang mengkarakterisasi fonem-fonem yang berhubungan dengan komponen
frekuensi resonansi dari sistem vokal didefinisikan sebagai formant. Suara yang
terucapkan, secara khusus adalah vokal, biasanya memiliki 3 buah formant dan
seringkali disebut sebagai formant kesatu, kedua, dan ketiga, dimulai
dengan komponen frekuensi terendah. Ketiganya selalu dituliskan sebagai
F1, F2, dan F3. formant 4 dan formant 5 dbutuhkan untuk mendapatkan nilai
parameter formant yang lebih detail karena bila sinyal suara yang kita olah
hanya memiliki formant yang kurang dari 3 buah, maka dapat dipastikan analisa
terhadap data tersebut akan gagal.
Durasi
Fonem
Salah satu komponen terpenting di dalam intonasi adalah
durasi sinyal. Setiap fonem yang memberikan kontribusi dalam menentukan pola
intonasi suatu kalimat. Durasi fonem ini sangat dipengaruhi oleh tekanan dan
kecepatan bicara. Durasi sebuah fonem vokal sangat dipengaruhi oleh tekanan,
sementara durasi sebuah konsonan umumnya memiliki variasi tekanan yang lebih
kecil.
Menurut Douglas O’Shugnessy(1.200) suatu ucapan dalam percakapan melibatkan
150-250 kata permenit, termasuk jeda yang masing-masing rata-rata sepanjang
6-50 ms. Durasi fonem bervariasi karena faktor seperti gaya bicara (membaca
atau bercakap-cakap). Durasi suku kata umumnya sekitar 200ms dengan vokal yang
mendapat tekanan sekitar 130 ms dan fonem lain sekitar 70ms. Durasi fonem
bermacam-macam untuk fonem yang berbeda karakteristiknya.
Durasi
dan Kekerasan Suara
Bagaimana kekerasan suara dari sebuah suara yang bersifat
impulsif menyamai kekerasan suara dari suara yang diberikan secara kontinyu
pada tingkatan yang sama?. Beberapa eksperimen telah menetapkan bahwa telinga
merata-ratakan energi suara sekitar lebih dari 200ms, maka kekerasan
suara yang bersifat impulsif akan bertambah dengan durasi hingga mencapai
nilai tersebut. Dengan kata lain, tingkat kekerasan suara akan bertambah 10 dB
ketika durasi bertambah dengan faktor 10. Dari sini dapat diketahui bahwa berapa
lamanya durasi yang dilakukan membantu dalam adaptasi pendengaran terhadap
kekerasan suara, terutama untuk suara yang sifatnya impulsif atau muncul tidak
kontinyu.
Durasi
dan Pitch
Lamanya durasi dapat mempengaruhi persepsi pitch. Kebergantungan pitch terhadap durasi mengikuti
prinsip ketikpastian akustik! Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Rossing dan
Houtsma pada tahun 1986, ketika durasi pitch
jatuh hingga di bawah 25 ms, pitch
dirasakan berubah, walaupun batasan ini berbeda untuk beberapa pengamat.
Durasi
dan Timbre
Durasi dari sinyal suara membedakan panjang pendeknya sinyal
suara dengan domain waktu. Dalam timbre musikal, lamanya durasi dapat membagi
nada ke dalam dua jenis yaitu : nada kontinyu dan nada transien. Persepsi
timbre dalam suatu permainan musik yang melibatkan banyak alat musik
dipengaruhi oleh durasinya. Seorang pendengar yang diminta untuk menebak jenis
alat musik akan menebak dengan benar untuk alat musik yang dimainkan dengan
durasi yang lebih lama dibandingkan dengan alat musik yang dimainkan hanya
sesaat (transien).
Intensitas
Suara
Intensitas bunyi menentukan keras lemahnya suara pada
bagian tertentu dari suatu kalimat. Telinga kita sangat peka (sensitive) dan dapat mendeteksi
intensitas-intensitas suara dalam orde 10-13 W/m2.
Ini setara dengan gerakan selaput telinga sebesar 10-12 m.
Intensitas suara minimum yang masih dapat didengar dinamakan ambang pendengaran
(threshold of hearing).
Intensitas suara biasanya dinyatakan dalam desibel di atas ambang pendengaran
karena kekerasan suara (loudness)
kira-kira adalah sebanding dengan logaritma dari intensitas. Pedoman nol
desibel untuk intensitas suara sudah ditentukan standarnya yaitu pada 10-12W/m2
pada 1000 Hz (yaitu ambang pendengaran pada 1000Hz).
Spektogram
Spektogram suara melukiskan variasi-variasi dalam batas yang
pendek yaitu variasi intensitas dan frekuensi dalam bentuk grafik. Variasi
tersebut memberikan banyak informasi yang bermanfaat tentang artikulasi suara.
Pola spektogram yang dihasilkan untuk setiap ucapan akan memiliki perbedaan.
Bahkan ketika dua orang mengucapkan kata yang sama artikulasi mereka sama,
namun tidak identik. Sehingga spektogram mereka akan menunjukkan kemiripan juga
perbedaan.
Metode
Principal Component Analysis (PCA)
Principal
Component Analysis (PCA) merupakan suatu metode reduksi
variabel-variabel dalam suatu matrik. Data-data suara yang telah ditentukan
nilai-nilai parameternya dibentuk menjadi sebuah matrik. Metode ini digunakan
untuk mencari distribusi sinyal suara dan parameter fisis yang paling dominan
pada sinyal suara tersebut
Jaringan
Syaraf Tiruan
Jaringan syaraf tiruan (JST) adalah system pemroses
informasi yang memiliki karakteristik mirip dengan jaringan syaraf biologi. JST
dibentuk sebagai generalisasi model matematika dari jaringan syaraf biologi,
dengan asumsi bahwa:
- Pemrosesan
informasi terjadi pada banyak elemen sederhana (neuron).
- Sinyal
dikirim diantara neuron-neuron melalui penghubung-penghubung.
- Penghubung
antar neuron memiliki bobot yang akan memperkuat atau memperlemah sinyal.
- Untuk
menentukan output, setiap neuron menggunakan fungsi aktivasi (biasanya bukan
fungsi linier) yang dikenakan pada jumlahan input yang diterima. Besarnya
output ini selanjutnya dibandingkan dengan suatu batas ambang.
JST ditentukan oleh 3 hal, yaitu :
1. Pola hubungan antar neuron
(arsitektur jaringan).
2. Metoda untuk menentukan
bobot penghubung (algoritma)
3. Fungsi aktivasi.
Besarnya impuls yang diterima oleh Y mengikuti fungsi
aktifasi y = f(net). Apabila nilai fungsi aktifasi cukup kuat, maka sinyal akan
diteruskan. Nilai fungsi aktifasi (keluaran model jaringan) juga dapat dipakai
sebagai dasar untuk merubah bobot.
Algoritma
Belajar Pada Jaringan Syaraf Tiruan
Ide dasar jaringan syaraf tiruan adalah konsep belajar.
Jaringan-jaringan belajar melakukan generalisasi karakteristik tingkah laku
obyek. Jika dilihat dari sudut pandang manusia, hal ini sama seperti bagaimana
manusia belajar sesuatu. Manusia mengenal obyek dengan mengatur otak untuk menggolongkan
atau melakukan generalisasi terhadap obyek-obyek tersebut. Manusia menyimpan
ilmu pengetahuannya ka dalam otak yang berisikan synapsis, neuron, dan
lainnya. Jaringan saraf menyimpan ilmu pengetahuannya dalam nilai bobot
sambungan (seperti synapsis dalam otak manusia) dan elemen-elemen (neurons)
yang menghasilkan kaluaran.
Jaringan-jaringan saraf membangun model-model system yang
berubah-ubah, yang direpresentasikan dengan proses stokastik peubah waktu
melalui beberapa ruang vektor (Rumelhart & Mc. Clelland, 1986). Oleh karena
itu, untuk vektor masukan, jaringan-jaringan merupakan pola-pola dari model
setiap saat dan vektor keluaran merupakan suatu aksi yang berhubungan, yang
ditunjukkan atau digolongkan oleh jaringan-jaringan tadi melalui masukan.
Untuk dapat menyelesaikan suatu permasalahan, jaringan saraf
tiruan melakukan algoritma belajar, yaitu bagaimana sebuah konfigurasi jaringan
saraf tiruan dapat dilatih untuk mempelajari data historis yang ada. Dengan
pelatihan ini, pengetahuan yang terdapat pada data dapat diserap dan
direpresentasikan oleh harga-harga bobot koneksinya. Berdasarkan cara
memodifikasi bobotnya, ada 2 macam pelatihan yang dikenal yaitu dengan
supervise (supervised) dan
tanpa supervise.
Dalam pelatihan dengan supervise, terdapat sejumlah pasangan
data (masukan-target keluaran) yang dipakai untuk melatih jaringan hingga
diperoleh bobot yang diinginkan. Pasangan data tersebut berfungsi sebagai
“guru” untuk melatih jaringan hingga diperoleh bentuk yang terbaik. “Guru” akan
memberikan informasi yang jelas tentang bagaimana system harus mengubah dirinya
untuk meningkatkan unjuk kerjanya.
Pada setiap kali pelatihan, suatu input diberikan ke
jaringan. Jaringan akan memproses dan megeluarkan keluaran. Selisih antara
keluaran jaringan dengan target (keluaran yang diinginkan) merupakan kesalahan
yang terjadi. Jaringan akan memodifikasi bobot sesuai dengan kesalahan
tersebut. Propagasi balik merupakan salah satu model yang menggunakan pelatihan
dengan supervisi.
Sebagai ilustrasi, pelatihan dengan supervise dapat
diandaikan sebagai skripsi yang dibimbing oleh seorang dosen. Pada setiap kali
pengumpulan berkas skripsi, dosen akan mengkritik, mengarahkan, dan meminta
perbaikan agar kualitas skripsi meningkat.
Sebaliknya, dalam pelatihan tanpa supervisi (unsupervised learning) tidak ada
“guru” yang akan mengarahkan proses pelatihan. Dalam pelatihannya, perubahan
bobot jaringan dilakukan berdasarkan parameter tertentu dan jaringan
dimodifikasi menurut ukuran parameter tersebut.
Sedangkan, dalam pelatihan tanpa supervise dapat dibayangkan
sebagai skripsi tanpa dosen pembimbing. Mahasiswa mengerjakan skripsi
sebaik-baiknya berdasarkan ukuran tertentu (misal dibandingkan dengan skripsi
yang sudah ada sebelumnya atau dibandingkan dengan skripsi hasil temannya).
Model pelatihan dengan supervisi lebih banyak digunakan dan
terbukti cocok dipakai dalam berbagai aplikasi. Akan tetapi kelemahan utama
pelatihan dengan supervisi adalah dalam hal pertumbuhan waktu
komputasinya yang berorder eksponensial. Ini berarti untuk data pelatihan yang
cukup banyak, prosesnya menjadi sangat lambat.
Arsitektur
Propagasi Balik
Kelemahan JST yang terdiri dari layar tunggal membuat
perkembangan JST terhenti pada sekitar tahun 1970-an. Penemuan propagasi balik
yang terdiri dari beberapa layar membuka kembali cakrawala. Terlebih setelah
berhasil ditemukannya berbagai aplikasi aplikasi yang dapat diselesaikan dengan
propagasi balik, membuat JST semakin diminati orang.
JST dengan layar tunggal memiliki keterbatasaan dalam pengenalan
pola. Kelemahan ini bisa ditanggulangi dengan menambahkan satu/ beberapa layar
tersembunyi diantara layar masukan dan keluaran. Meskipun penggunaan lebih dari
satu layar tersembunyi memiliki kelebihan manfaat untuk beberapa kasus, tetapi
pelatihannya membutuhkan waktu yang lama. Maka umumnya orang mulai mencoba
dengan sebuah layar tersembunyi dahulu.
Seperti halnya model JST lain, propagasi balik melatih
jaringan untuk mendapatkan keseimbangan antara kemampuan jaringan untuk
mengenali pola yang digunakan selama pelatihan serta kemampuan jaringan untuk
memberikan respon yang benar terhadap pola masukan yang serupa (tetapi tidak
sama) dengan pola yang dipakai selama pelatihan.
Propagasi Balik memiliki beberapa unit yang ada dalam satu
atau lebih layar tersembunyi. JST Propagasi Balik merupakan model JST yang
paling banyak digunakan dalam edukasi. Arsitektur dan proses belajar yang
sederhana sangat memudahkan untuk dipelajari.
Pelatihan
Propagasi Balik
Pelatihan propagasi balik meliputi 3 fase. Fase pertama
adalah fase maju. Pola masukan dihitung maju mulai dari layer masukan hingga
layer keluaran menggunakan fungsi aktivasi yang ditentukan. Fase kedua adalah
fase mundur. Selisih antara keluaran jaringan dengan target yang diinginkan
merupakan keslahan yang terjadi. Kesalahan tersebut dipropagasikan mundur,
dimulai dari garis yang berhubungan langsung dengan unit-unit di layer
keluaran. Fase ketiga adalah modifikasi bobot untuk menurunkan keslahan yang
terjadi.
Pelatihan propagasi balik menggunakan metode pencarian titik
minimum untuk mencari bobot dengan error minimum. Dalam proses pencarian ini
dikenal dua macam metode yaitu metode incremental
dan metode kelompok (batch).
Dalam metode incremental, bobot diubah setiap kali pola masukkan diberikan ke
jaringan. Sebaliknya dalam metode kelompok, bobot diubah setelah semua pola
masukkan diberikan ke jaringan. Error dan suku perubahan perubahan bobot yang
terjadi dalam setiap pola masukkan dijumlahkan untuk menghasilkan bobot yang
baru. Matlab menggunkan metode pelatihan kelompok dalam iterasinya. Perubahan
bobot dilakukan per-epoch (per kala).
11.
12. Melenturkan bahu dan
leher dengan cara menundukkan dan menengadahkan leher ke depan dan ke belakang
13. Melenturkan lutut
dengan cara menekuk lutut
14. Menggerakkan tumit
naik dan turun sambil menjulurkan tangan ke atas sejauh mungkin seolah-olah
hendak memetik buah yang berada di luar jangkauan
15. Membayangkan tubuh
seperti sebuah genta besar yang berayun-ayun dari kiri ke kanan
Pernafasan dengan
menggunakan diafragma :
1.
Diafragma dalam posisi rileks adalah otot yang berbentuk menyerupai kubah
yang terletak memanjang pada bagian bawah tulang rusuk. Ketika paru-paru
dipenuhi dengan udara, diafragma memipihkan dirinya sehingga memungkinkan
tersedianya ruang tambahan untuk pengambilan udara. Karena diafragma melekat
pada bagian bawah tulang rusuk manusia, maka otot-otot intercostal (otot-otot
diantara tulang¬tulang rusuk) juga turut mengembang. Pada saat pengambilan
udara diafragma berubah memipih dan bergerak turun ke bawah sehingga mendorong
organ-organ tubuh yang berada di bawahnya mengembang keluar. Karena itulah para
penyanyi disarankan untuk menghindari makan besar sebelum bernyanyi
2.
Pada saat mengambil nafas rongga perut bergerak mengembang ke segala arah
terutama ke samping dan ke belakang. Pengambilan nafas dapat dilakukan dengan
menggunakan mulut dan hidung secara bersamaan seakan-akan membayangkan sedang
mencium harumnya bunga. Namun pada bagian-bagian lagu yang tidak memberikan
jeda yang cukup, maka kita hanya dapat mengambil nafas dengan menggunakan
mulut. Sedangkan pada bagian lagu yang memberikan jeda yang cukup panjang,
disarankan menggunakan hidung (lebih higienis) dan mulut secara bersamaan
3.
Pada waktu menghirup udara, posisi dada tetap dalam keadaan rata dan terasa
bergerak melebar ke samping. Perhatikan bukan membusung atau bergerak ke atas!
4.
Pada waktu sedang menghirup nafas, perhatikan bahwa bahu samasekali tidak
bergerak naik, ke depan ataupun ke belakang
5.
Otot tulang belakang dan tulang belakang berfungsi menahan agar rongga
perut yang mengembang tersebut tidak segera mengendur. Dalam menahan agar perut
tetap kencang, jangan sekali-kali menggunakan otot-otot bahu
6.
Pangkal tulang belakang (daerah ekor) bergerak ke bawah sedalam-dalamnya
dan tetap dipertahankan demikian selama proses menahan udara
7.
Pada waktu mengambil nafas dalam-dalam maka secara otomatis langit-langit
lunak akan bergerak ke atas dan sebaliknya jakun bergerak ke bawah. Posisi
terbuka seperti ini merupakan posisi bernyanyi yang benar
8.
Pada saat sedang bernyanyi, udara yang telah diambil tadi dikeluarkan
kembali secara teratur dengan senantiasa mempertahankan kondisi rongga perut
yang tetap kencang dan bukan tegang
9.
Empat hal yang perlu diingat baik-baik dalam melatih pernafasan adalah :
(1) postur tubuh yang terkoordinasi dengan baik perlu tetap dipertahankan, (2)
pengambilan nafas yang benar tidaklah berbunyi, (3) pada saat mengeluarkan
udara posisi dada harus tetap dijaga, (4) pada setiap pengambilan nafas
tulang-tulang rusuk di bagian bawah haruslah mengembang
Beberapa latihan
praktis untuk pernafasan :
Menghirup udara :
1.
Sikap berdiri tegak
2.
Salah satu tangan berada di pinggang
3.
Tangan lainnya menekan pusar
4.
Dengan meniru bentuk mulut ikan hirup udara pelan-pelan dengan menggunakan
hidung dan mulut. Bayangkan bahwa anda sedang mencoba mengenali aroma suatu
parfum
5.
Selama proses pengisian udara berlangsung bayangkan bahwa tubuh anda ibarat
balon yang mengembang karena diisi udara
6.
Menahan udara yang telah diambil dengan rileks (posisi tubuh yang
mengembang) dan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan secara perlahan
Mengeluarkan udara :
1.
Mengeluarkan udara yang telah diambil dengan menggunakan konsonan “sh”
2.
Menenangkan seorang bayi yang sedang menangis
3.
Menirukan bunyi lebah
4.
Membayangkan sedang meniup balon yang melayang di udara agar tidak terjatuh
ke tanah
MEMPERBAIKI PROSES PEMBENTUKAN SUARA
DALAM MENYANYI
Proses
Penghasilan Bunyi Suara
Fonasi merupakan proses penghasilan bunyi suara melalui getaran pita suara. Aksi ini terjadi didalam larynx saat pita suara merapat dan tekanan nafas diaplikasikan pada kedua pita suara tersebut sedemikian rupa sehingga menimbulkan getaran. Pita suara dirapatkan oleh aksi otot interarytenoid yang menarik tulang rawan arytenoid sehingga kedua pita suara dapat saling merapat. Terdapat dua teori utama mengenai terjadinya vibrasi pada suara:
1. Teori myoelastik:
Merupakan teori yang menyatakan bahwa pada saat pita suara dalam keadaan rapat dan tekanan nafas diaplikasikan kepadanya, pita suara akan tetap merapat, hingga tekanan dibawahnya (tekanan subglottis) mencukupi untuk mendorongnya merenggang. Aliran udara yang mengalir keluar dan mengakibatkan berkurangnya tekanan nafas & menyebabkan pita suara merapat kembali.
Tekanan kembali dihimpun hingga pita suara dapat direnggangkan kembali, dan siklus ini terus berulang. Besarnya tekanan yang menyebabkan tertutup atau terbukanya pita suara (jumlah getaran perdetik) menentukan tingkat nada dari suara yang dihasilkan.
2. Teori aerodynamik:
Teori ini berdasarkan pada Efek Bernouilli yang menyatakan bahwa nafas mengalir melalui glottis pada saat tulang rawan arytenoid dipisahkan oleh aksi otot-otot interarytenoid.
Menurut Efek Bernouilli, nafas yang mengalir melalui pita suara menyebabkan pita suara tersebut bergetar sebelum arytenoid merapat dengan sempurna. Sewaktu arytenoid tertarik secara bersama hingga merapat, aliran udara ini membuat glottis tertutup dan menghentikan aliran udara hingga tekanan nafas medorong pita suara sampai merenggang dan menyebabkan aliran udara mengalir kembali. Aksi ini menghasilkan suatu siklus yang berulang.
Perbedaan kedua teori diatas hanyalah terletak pada faktor yang menyebabkan pita suara merapat kembali dalam setiap siklusnya. Teori myoelastis memberikan penekanan pada tekanan otot (elastisitas), sedangkan teori aerodinamis memberikan penekanan pada Efek Bernouilli. Sangatlah mungkin kedua teori tersebut benar dan dapat beroperasi secara simultan dalam menghasilkan dan mempertahankan vibrasi.
3. Teori Neurochronaxic dari Raoul Husson.
Teori ini sangat terkenal pada era 1950-an, namun belakangan teori ini telah didiskriditkan. Teori ini menyatakan bahwa: “Frekwensi pada pita suara ditentukan oleh cronaxy syaraf yang berulang, dan bukan karena tekanan nafas atau tekanan otot”. Penganut teori ini menganggap bahwa setiap vibrasi pada pita suara merupakan impuls dari syaraf-syaraf larynx yang bergetar dan bahwa pusat akustik pada otak diatur oleh kecepatan vibrasi pita suara yang dihasilkan. Jika benar, maka teori ini memiliki keuntungan psikologis bagi para penyanyi, sayangnya teori ini tidak pernah disyahkan.
Karakter Bunyi Suara Yang Baik
Sebuah prasyarat dalam menentukan kebiasaan fonatori yang baik bagi seorang penyanyi atau pembicara agar dapat memiliki konsep yang valid bagi bunyi suara yang baik. Berikut ini merupakan gambaran ekspresi yang dapat mewakili beberapa karakteristik penting bagi bunyi suara yang baik:
1. Dihasilkan dengan bebas;
2. Menyenangkan untuk didengar;
3. Cukup keras untuk dengar dengan baik;
4. Kaya, berdering dan memiliki beresonansi;
5. Memiliki energi yang mengalir lembut dari satu nada ke nada yang lain;
6. Dihasilkan secara konsisten;
7. Memiliki vibrasi, dinamik dan hidup;
8. Ekspresif.
Berikut ini merupakan daftar karakteristik bunyi suara yang buruk:
1. Tercekik, dipaksakan atau tegang;
2. Melengking, parau;
3. Terlalu keras, menyerupai teriakan atau bentakan;
4. Serak;
5. Mengandung nafas;
6. Lemah, tidak memiliki warna, atau tidak hidup;
7. Dihasilkan secara tidak konsisten;
8. Bergetar atau goyang.
Suara yang indah bermula dari pikiran anda. Jika anda tidak dapat memikirkan sebuah nada yang indah, maka anda tidak akan dapat menghasilkannya. Anda harus belajar untuk membayangkan suatu suara di dalam mata batin anda, serta belajar “mendengarkan”-nya di dalam telinga batin, sebelum anda dapat mewujudkannya.
Cara terbaik untuk mencapai gambaran mental dari suara yang indah adalah dengan mendengarkan beberapa penyanyi terkenal secara tekun. Anda harus terus mendengarkan pertunjukan panggung dan rekaman penyanyi-penyanyi tersebut hingga anda mampu menampilkan gambaran dari penyanyi yang anda dengarkan.
Dengan cara ini diharapkan anda dapat meniru karakteristik suara yang baik, seperti yang telah dijelaskan diatas. Hal terpenting dalam membentuk karakteristik suara yang baik adalah menentukan sebuah “model suara” yang dapat dijadikan sebagai sebuah panutan dalam pencarian anda terhadap kualitas suara yang prima.
Jangan mempolakan diri anda untuk mengimitasi seorang penyanyi tertentu, betapapun baikknya ia menyanyi. Terdapat beberapa alasan mengenai hal ini:
Pertama, atribut fisik anda (seperti ketebalan dan panjang pita suara, ukuran dan bentuk resonator dll.) pasti sangat berbeda dengan penyanyi yang anda tiru, sehingga anda tidak akan dapat mencapai kualitas suara yang serupa tanpa melakukan pemaksaan ataupun peniruan.
Kedua, seorang penyanyi yang matang dengan pengalaman dapat melakukan banyak hal dengan suaranya tanpa harus merusaknya, dan hal ini tidak berlaku untuk penyanyi pemula.
Ketiga, jika anda mempolakan diri anda terlalu serupa dengan seorang penyanyi, anda akan cendrung manjadi imitasi dari penyanyi yang bersangkutan, tanpa memiliki individualitas. Akan lebih bijaksana jika anda mampu memilih sepuluh orang penyanyi yang memiliki katagori suara yang sama dengan anda dan memiliki dan memiliki kelebihan-kelebihan yang dapat anda adopsi sebagai suatu model dalam pembentukan suara anda.
Tiga Fase Dalam Sebuah Nada Musikal
Setiap nada musikal dapat dibagi menjadi tiga fase:
1. Fase Attack (fase memulai nada);
2. Fase Sustention (fase penahanan nada); dan
3. Fase Release (fase pengakhiran nada).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ketiga fase ini terdiri dari memulai nada, menahan nada dan mengakhiri nada. Setiap fase fungsi yang penting dan memiliki masalah-masalahnya tersendiri.
Fonasi merupakan proses penghasilan bunyi suara melalui getaran pita suara. Aksi ini terjadi didalam larynx saat pita suara merapat dan tekanan nafas diaplikasikan pada kedua pita suara tersebut sedemikian rupa sehingga menimbulkan getaran. Pita suara dirapatkan oleh aksi otot interarytenoid yang menarik tulang rawan arytenoid sehingga kedua pita suara dapat saling merapat. Terdapat dua teori utama mengenai terjadinya vibrasi pada suara:
1. Teori myoelastik:
Merupakan teori yang menyatakan bahwa pada saat pita suara dalam keadaan rapat dan tekanan nafas diaplikasikan kepadanya, pita suara akan tetap merapat, hingga tekanan dibawahnya (tekanan subglottis) mencukupi untuk mendorongnya merenggang. Aliran udara yang mengalir keluar dan mengakibatkan berkurangnya tekanan nafas & menyebabkan pita suara merapat kembali.
Tekanan kembali dihimpun hingga pita suara dapat direnggangkan kembali, dan siklus ini terus berulang. Besarnya tekanan yang menyebabkan tertutup atau terbukanya pita suara (jumlah getaran perdetik) menentukan tingkat nada dari suara yang dihasilkan.
2. Teori aerodynamik:
Teori ini berdasarkan pada Efek Bernouilli yang menyatakan bahwa nafas mengalir melalui glottis pada saat tulang rawan arytenoid dipisahkan oleh aksi otot-otot interarytenoid.
Menurut Efek Bernouilli, nafas yang mengalir melalui pita suara menyebabkan pita suara tersebut bergetar sebelum arytenoid merapat dengan sempurna. Sewaktu arytenoid tertarik secara bersama hingga merapat, aliran udara ini membuat glottis tertutup dan menghentikan aliran udara hingga tekanan nafas medorong pita suara sampai merenggang dan menyebabkan aliran udara mengalir kembali. Aksi ini menghasilkan suatu siklus yang berulang.
Perbedaan kedua teori diatas hanyalah terletak pada faktor yang menyebabkan pita suara merapat kembali dalam setiap siklusnya. Teori myoelastis memberikan penekanan pada tekanan otot (elastisitas), sedangkan teori aerodinamis memberikan penekanan pada Efek Bernouilli. Sangatlah mungkin kedua teori tersebut benar dan dapat beroperasi secara simultan dalam menghasilkan dan mempertahankan vibrasi.
3. Teori Neurochronaxic dari Raoul Husson.
Teori ini sangat terkenal pada era 1950-an, namun belakangan teori ini telah didiskriditkan. Teori ini menyatakan bahwa: “Frekwensi pada pita suara ditentukan oleh cronaxy syaraf yang berulang, dan bukan karena tekanan nafas atau tekanan otot”. Penganut teori ini menganggap bahwa setiap vibrasi pada pita suara merupakan impuls dari syaraf-syaraf larynx yang bergetar dan bahwa pusat akustik pada otak diatur oleh kecepatan vibrasi pita suara yang dihasilkan. Jika benar, maka teori ini memiliki keuntungan psikologis bagi para penyanyi, sayangnya teori ini tidak pernah disyahkan.
Karakter Bunyi Suara Yang Baik
Sebuah prasyarat dalam menentukan kebiasaan fonatori yang baik bagi seorang penyanyi atau pembicara agar dapat memiliki konsep yang valid bagi bunyi suara yang baik. Berikut ini merupakan gambaran ekspresi yang dapat mewakili beberapa karakteristik penting bagi bunyi suara yang baik:
1. Dihasilkan dengan bebas;
2. Menyenangkan untuk didengar;
3. Cukup keras untuk dengar dengan baik;
4. Kaya, berdering dan memiliki beresonansi;
5. Memiliki energi yang mengalir lembut dari satu nada ke nada yang lain;
6. Dihasilkan secara konsisten;
7. Memiliki vibrasi, dinamik dan hidup;
8. Ekspresif.
Berikut ini merupakan daftar karakteristik bunyi suara yang buruk:
1. Tercekik, dipaksakan atau tegang;
2. Melengking, parau;
3. Terlalu keras, menyerupai teriakan atau bentakan;
4. Serak;
5. Mengandung nafas;
6. Lemah, tidak memiliki warna, atau tidak hidup;
7. Dihasilkan secara tidak konsisten;
8. Bergetar atau goyang.
Suara yang indah bermula dari pikiran anda. Jika anda tidak dapat memikirkan sebuah nada yang indah, maka anda tidak akan dapat menghasilkannya. Anda harus belajar untuk membayangkan suatu suara di dalam mata batin anda, serta belajar “mendengarkan”-nya di dalam telinga batin, sebelum anda dapat mewujudkannya.
Cara terbaik untuk mencapai gambaran mental dari suara yang indah adalah dengan mendengarkan beberapa penyanyi terkenal secara tekun. Anda harus terus mendengarkan pertunjukan panggung dan rekaman penyanyi-penyanyi tersebut hingga anda mampu menampilkan gambaran dari penyanyi yang anda dengarkan.
Dengan cara ini diharapkan anda dapat meniru karakteristik suara yang baik, seperti yang telah dijelaskan diatas. Hal terpenting dalam membentuk karakteristik suara yang baik adalah menentukan sebuah “model suara” yang dapat dijadikan sebagai sebuah panutan dalam pencarian anda terhadap kualitas suara yang prima.
Jangan mempolakan diri anda untuk mengimitasi seorang penyanyi tertentu, betapapun baikknya ia menyanyi. Terdapat beberapa alasan mengenai hal ini:
Pertama, atribut fisik anda (seperti ketebalan dan panjang pita suara, ukuran dan bentuk resonator dll.) pasti sangat berbeda dengan penyanyi yang anda tiru, sehingga anda tidak akan dapat mencapai kualitas suara yang serupa tanpa melakukan pemaksaan ataupun peniruan.
Kedua, seorang penyanyi yang matang dengan pengalaman dapat melakukan banyak hal dengan suaranya tanpa harus merusaknya, dan hal ini tidak berlaku untuk penyanyi pemula.
Ketiga, jika anda mempolakan diri anda terlalu serupa dengan seorang penyanyi, anda akan cendrung manjadi imitasi dari penyanyi yang bersangkutan, tanpa memiliki individualitas. Akan lebih bijaksana jika anda mampu memilih sepuluh orang penyanyi yang memiliki katagori suara yang sama dengan anda dan memiliki dan memiliki kelebihan-kelebihan yang dapat anda adopsi sebagai suatu model dalam pembentukan suara anda.
Tiga Fase Dalam Sebuah Nada Musikal
Setiap nada musikal dapat dibagi menjadi tiga fase:
1. Fase Attack (fase memulai nada);
2. Fase Sustention (fase penahanan nada); dan
3. Fase Release (fase pengakhiran nada).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ketiga fase ini terdiri dari memulai nada, menahan nada dan mengakhiri nada. Setiap fase fungsi yang penting dan memiliki masalah-masalahnya tersendiri.
- Fase attack:
merupakan fase yang sangat penting dalam menyanyi karena memiliki
kecendrungan untuk mempengaruhi dua fase lainnya dalam proses menghasilkan
suara. Nada yang dimulai dengan baik akan membuka jalan bagi fase
penahanan dan fase pengakhiran nada. Nada yang dimulai dengan cara buruk
akan menimbulkan dampak serupa pada fase-fase selanjutnya. Awal yang baik
berasal dari dalam pikiran penyanyi yang bersangkutan sebelum ia melakukan
aktifitas fisik, termasuk didalamnya adalah persiapan untuk pitch
dengan tepat, kualitas nada yang tepat dan tingkat dinamik yang tepat.
Pitch harus dimulai dengan tepat, tanpa “menyendok” keatas ataupun “tergelincir” kebawah. Untuk dapat melakukannya, seorang penyanyi harus dapat membentuk suatu kebiasaan mendengarkan pitch secara mental sebelum mulai menyanyikan pitch tersebut, dan bukan sewaktu menyanyikannya.
Sebuah attack yang baik harus terlebih dahulu dipersiapkan, baik secara fisik maupun mental. Sebuah attack yang sempurna baru akan terjadi jika mekanisme penunjang nafas dan pita suara terlibat dalam suatu aksi bersama secara simultan dan efisien, tanpa andanya ketegangan yang tidak diperlukan, ataupun pembuangan nafas secara sia-sia. Jenis koordinasi yang “effortless” ini hanya dapat dicapai jika langkah-langkah persiapan telah dilakukan secara matang. Latihlah fase attack anda dengan menggunakan latihan berikut ini:
1. Tariklah nafas seperti saat anda mulai menguap;
2. Rasakan adanya pengembangan pada bagian tengah tubuh anda;
3. Tahan nafas anda begitu paru-paru anda terasa penuh dan nyaman;
4. Mulailah nada dengan terlebih dahulu memikirkan cara menghasilkannya, tanpa usaha fisik yang berlebihan.
Untuk menghasilkan suara yang baik, tidak diperlukan usaha yang bersifat lokal, seperti menarik perut atas kedalam atau mendorongnya kearah depan. Jika anda telah menarik nafas dengan benar dengan postur yang baik, berarti anda telah menciptakan tunjangan nafas yang cukup untuk menyanyikan setiap nada dalam jangkauan nada (vocal range) anda tanpa perlu melakukan pengaturan kembali secara sengaja.
Yang diperlukan pada tahap ini adalah gambaran mental yang tepat, pitch yang tepat, kualitas nada yang tepat, serta tingkatan dinamik yang diinginkan. Setelah semua itu terpenuhi, maka aksi refleks akan mengambil alih semua kegiatan tersebut. Jika hasilnya tidak seperti yang anda inginkan, berarti terdapat kesalahan dalam persiapan baik mental maupun fisik. Jangan memaksan penggunaan kekuatan otot yang berlebihan sebagai ukuran yang baku dalam menghasilkan suara yang baik. Pikirkanlah terlebih dahulu nada tersebut sebelum anda menyanyikannya.
Dalam sebuah attack yang berimbang dan terkoordinasi, rahang haruslah dapat diturun secara bebas sebelum anda menghasilkan suara. Gerakan rahang yang benar adalah turun kearah bawah baru kemudian digerakkan sedikit kearah belakang. Jangan menekan rahang kearah bawah, mendorongnya kearah depan, atau menguncinya dalam suatu posisi, biarkanlah rahang bergerak dengan bebas.
Jangan memikirkan pita suara anda pada saat anda menyanyi, karena pada dasarnya anda tidak memiliki kendali atas pita suara anda. Akan lebih baik jika anda memikirkan jenis suara yang akan anda hasilkan, dan sensasi apa yang akan anda rasakan pada saat suara seperti itu dihasilkan.
Walaupun fonasi terjadi didalam larynx, ia akan terasa seperti dihasilkan disuatu tempat didalam kepala anda. Beberapa orang penyanyi menyatakan bahwa suara terasa dihasilkan di langit-langit mulut. Hal seperti ini merupakan sensasi yang baik untuk anda coba, karena sensasi seperti itu akan mengalihkan perhatian anda dari pita suara. Dalam pelajaran menyanyi terdapat sebuah pepatah kuno yang berbunyi: “Penyanyi yang baik adalah penyanyi yang tidak memiliki leher”. Pepatah ini cocok untuk menggambarkan apa yang seharusnya dirasakan oleh seorang penyanyi.
- Fase Sustention
dari suatu nada berlangsung dari saat sesudah nada tersebut dimulai dan
saat sebelum nada tersebut berakhir. Durasinya tergantung pada nada yang
akan dinyanyikan. Menunjang suatu nada berarti menahan nada tersebut
selama yang diperlukan. Berarti menopangnya secara fisik dari arah bawah,
membuatnya tetap berbunyi, mempertahankannya atau memperpanjangnya,
mempertahankan vitalitas yang terdapat didalamnya. Hal inilah yang seharusnya
terjadi selama fase penahanan, dimana energi yang digunakan untuk memulai
suara tersebut harus tetap mengalir.
Mekanisme pernafasan harus melakukan tunjangan terhadap suara dari arah bawah tubuh. Vitalitas suara yang mendapat tunjangan tersebut haruslah tetap terjaga dan terfokus pada suatu tempat di kepala anda. Sebuah suara yang mendapat tunjangan harus tetap berada dalam keadaan stabil dan konsisten, tidak bergoyang, tidak mengalami perubahan dalam kualitas maupun tingkat dinamik, kecuali dalam merespon tuntutan ekspesif dalam musik.
Hal penting yang harus diingat oleh seorang penyanyi adalah: jangalah sekali-kali menyanyikan nada dengan melakukan sentakan pada nafas. Ada dua faktor yang dapat membantu anda dalam memastikan bahwa energi yang anda hasilkan stabil:
1. Pertahankan pengembangan didaerah tengah tubuh selama anda menyanyikan suatu nada;
2. Pertahankan postur yang baik dengan cara berdiri tegap dengan punggung yang meregang.
Sebuah ketegangan berimbang yang terjadi antara otot-otot yang digunakan untuk menghirup nafas dan otot-otot yang digunakan untuk menghembuskan nafas hanya akan terjadi jika anda telah dapat menerapkan postur dan pernafasan yang baik. Hubungan dinamis ini (disebut sebagai tunjangan nafas) merupakan faktor yang penting dalam melakukan tunjangan pada suara.
Saat melakukan penunjangan pada sebuah nada, bayangkanlah bahwa suara yang anda hasilkan mengalir bebas keluar dari tubuh anda, namun nafas anda seakan tetap tertinggal didalam tubuh anda. Pada kenyataannya, nafas pasti akan mengalir keluar dari tubuh anda, namun harus selambat mungkin. Bayangkan anda tengah berada dalam posisi menghirup nafas sewaktu anda menyanyikan suatu nada, ini akan membantu memperlambat keluarnya nafas dan mempertahankan pengembangan pada bagian tengah tubuh anda. Tenggorokan anda harus terasa rileks dan terbuka dari bagian atas hingga bagian bawahnya. Untuk mendapatkan perasaan seperti itu, pertahankanlah posisi awal menguap. Langit-langit mulut anda harus terasa bergetar seperti jika anda tengah bersenandung. Sensasi ini akan mempengaruhi kualitas suara dan efisiensi dari aksi pita suara anda.
Tidak perlu melakukan gerakan pada lidah, bibir atau rahang sewaktu melakukan penahanan pada sebuah nada tunggal. Artikulator hanya aktif pada fase pemulaian dan pengakhiran nada, bukan pada fase penahanan nada. Jika suara sudah mulai dihasilkan, lidah, bibir dan rahang telah selesai melakukan tugas utamanya, dalam fase penahanan mereka akan beristirahat hingga tiba fase pengakhiran nada. Salah satu ciri dari penyanyi yang belum berpengalaman adalah melakukan perubahan postur dari alat-alat pengucapannya pada saat menahan sebuah nada. Aksi ini dapat menimbulkan ketegangan yang tidak perlu serta menimbulkan efek yang buruk bagi huruf hidup yang tengah dinyanyikan.
- Fase Release.
Fase pengakhiran sebuah nada memiliki durasi yang sangat singkat dan harus
dilakukan secara tegas dan tepat. Fase ini tidak boleh diabaikan,
diperlambat atau dipercepat karena fase ini harus dilakukan pada waktu
yang tepat dan dengan cara yang benar. Pada kenyataannya, sebuah nada
harus diakhiri, namun bukan dengan cara menghilang atau berhenti karena
kehabisan energi. Tunjangan nafas yang digunakan untuk memperpanjang nada
harus tetap dilanjutkan hingga fase pelepasan nada ini selesai. Jangan
biarkan tunjangan anda mengendur sebelum suara selesai dinyanyikan, jika
terjadi, hal ini akan mempengaruhi pitch dan kualitas nada yang
anda hasilkan.
Jangan
mendahului sebuah release. Berpikir untuk mengakhiri nada terlalu cepat
akan menyebabkan tunjangan nafas menjadi terlalu cepat rileks, atau menyebabkan
tenggorokan anda menyempit dalam persiapannya untuk menghasilkan sebuah huruf
konsonan.
Sebuah release yang baik seharusnya dilakukan pada saat akhir secara cepat, bersih dan tepat. Lemahnya musikalitas seorang penyanyi merupakan penyebab utama dari release yang buruk. Salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang penyanyi adalah kemampuan untuk menghitung nada dengan tepat, karena hanya dengan cara ini ia dapat mengetahui kapan saatnya ia harus memulai, memperpanjang dan mengakhiri sebuah nada.
Sebagian besar kata dalam bahasa Inggris berakhir dengan huruf konsonan, karenanya konsonan dalam kata berbahasa inggis memiliki fungsi yang sangat vital dalam melakukan release. Sebuah release akan terdengar baik jika sebuah huruf konsonan akhir dapat diucapkan dengan cepat, tegas dan tepat pada waktunya. Sayangnya, banyak penyanyi yang tidak mengindahkan konsonan akhir, sehingga jarang sekali mereka menggunakan energi atau kelincahan yang cukup dalam melakukan release.
Sebuah huruf konsonan harus dinyanyikan hingga batas akhir hitungan, kemudian diakhiri dengan cara yang cepat, dan tegas. Bayangkanlah bahwa sebuah konsonan akhir merupakan batas akhir dari suatu nada. Jangan mengantisipasi release saat anda baru saja mulai menyanyikan sebuah huruf hidup, tunggulah dan biarkan nada tersebut berbunyi hingga pada saatnya diakhiri dengan konsonan.
Jangan mencoba untuk menghentikan sebuah nada dengan cara “menjepit” tenggorokan atau dengan memutuskan nafas anda. Sebuah release yang dilakukan dengan cara seperti itu akan menimbulkan ketegangan dan seringkali berakhir dengan suara yang serak. Biarkanlah organ-organ pembentuk suara (bibir, lidah dan rahang) melepaskannya secara alami. Jika sebuah nada berakhir dengan huruf hidup, anda harus tetap mengakhirinya dengan cara yang sama dengan nada yang memiliki huruf akhir konsonan. Teknik menyanyi tidak memiliki cara yang berbeda dalam melakukan dua aksi diatas.
Pada prakteknya, pita suara dan mekanisme penunjang juga melakukan pelepasan suara tepat bersamaan dengan aksi pelepasan yang dilakukan oleh bibir, lidah dan rahang dalam suatu gerakan yang tersingkronisasi. Karenanya, sangatlah baik bagi bagi seorang penyanyi untuk dapat merasakan bahwa alat-alat pengucapannya memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam fase pengakhiran nada ini.
KESIMPULAN:
Fonasi merupakan proses yang sangat terkait dengan pernafasan. Sangatlah mungkin melakukan pernafasan tanpa melakukan fonasi, namun sangatlah mustahil untuk melakukan fonasi tanpa mendapat bantuan dari nafas.
Dalam fonasi yang ideal dan berimbang, kedua proses tersebut terkoordinasi sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan pitch dan tingkat dinamik yang diinginkan dengan hanya menggunakan usaha minimal dari mekanisme penunjang nafas.
Dengan kata lain, hanya dengan tekanan udara dan ketegangan pita suara yang sangat berimbang yang dapat menghasilkan vibrasi yang baik tanpa menimbulkan ketegangan yang tidak diperlukan ataupun inefisiensi nafas.
Tubuh penyanyi harus dilatih agar dapat berfungsi sebagai sebuah kesatuan, dibawah kendali pikiran, bukan sebagai kelompok yang terpisah-pisah yang dikendalikan secara lokal. Aksi yang terkoordinasi merupakan dasar bagi fonasi yang baik.
Kesalahan Yang Berhubungan Dengan Fonasi
Kesalahan dalam fonasi diperkirakan berasal dari tidak berfungsinya mekanisme larynx pada saat penyanyi yang bersangkutan menggunakan “suara asli”-nya. Kesalahan pada fonasi dibagi menjadi dua jenis: hipofungsional dan hiperfungsional.
▪ Fonasi hipofungsional, merupakan proses fonasi yang gagal dalam memenuhi tuntutan aktivitas yang dibutuhkan oleh mekanisme larynx. Kesalahan ini sering terjadi pada penyanyi pemula, namun juga dapat disebabkan oleh sebab faktor penuaan usia pada penyanyi yang bersangkutan.
Kesalahan ini merupakan kesalahan yang paling banyak terjadi pada penyanyi. Penyebab utama dari kesalahan hipofungsional ini adalah tidak cukup tertutupnya glottis pada pita suara secara baik. Dampak dari kesalahan ini adalah timbulnya suara yang bercampur dengan nafas, dimana aliran udara dapat dengan bebas mengalir keluar dari celah dari glottis yang tidak tertutup secara baik tersebut.
Pada saat pita suara tidak menutup dengan baik, tunjangan nafas akan mendorong udara yang “tidak terpakai” ini melalui celah pada glottis. Nafas yang terbung percumai sama dengan nada yang terbuang percuma, dan hal ini harus dihindari. Udara yang terbuang percuma juga menyebabkan lemahnya pengendalian nafas. Sebuah ban dengan pentil yang rusak akan cepat sekali kempes, seorang penyanyi yang tidak mampu menutup celah glottisnya dengan baik akan cepat sekali kehabisan nafas.
Seorang pakar vokal terkenal, Van A. Christy menyatakan, “Efficient tone is basic for efficient breath control” (nada yang efisien merupakan dasar bagi pengendalian nafas yang efisien). Dalam konteks ini, nada yang efisien dan aksi pita suara yang efisien merupakan hal yang sinonim).
Prosedur terbaik bagi perbaikan suara yang bercampur nafas adalah melatih pita suara agar dapat menutup dengan baik. Cara ini tidaklah mudah karena kita tidak memiliki kendali langsung terhadap pita suara. Tidak mungkin kita dapat memerintah interarytenoid dan otot-otot lateral cricoaritenoid untuk menutup glottis secara langsung. Aksi ini harus dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan pola-pola pemikiran tertentu serta aksi refleks yang terkondisi dengan baik. Sebagai contoh, berpikir untuk melakukan fase awal menguap akan menyebabkan merenggangnya jarak kedua pita suara. Sebaliknya, berfikir untuk melakukan fase awal bersenandung akan membuat pita suara merapat dan menutup celah glottis. Lakukanlah percobaan berikut ini:
Hiruplah nafas dalam dengan nyaman dan berfikirlah untuk bersenandung. Anda akan merasakan bahwa mulut dan pita suara anda menutup untuk mempersiapkan aksi bersenandung tersebut (Jika anda menarik otot perut dengan kuat, anda akan merasakan bahwa pita suara anda menahan nafas yang akan keluar).
Pada saat anda mulai bersenandung, rapatkan gigi anda kuat-kuat dan cobalah untuk merasakan adanya getaran berdengung pada langit-langit mulut anda. Aksi bersenandung seperti ini terkadang menghasilkan kualitas bunyi suara yang kurang baik, yaitu suara yang terdengar bercampur nafas.
Kini cobalah bersenandung dengan mulut yang tetap tertutup sambil memisahkan gigi anda dengan cara menurunkan rahang bawah anda perlahan-lahan. Cobalah untuk mempertahan-kan getaran pada langit-langit selama mungkin. Aksi bersenandung jenis ini akan menimbulkan perasaan rileks dan akan menghasilkan kualitas bunyi suara yang lebih baik dibandingkan cara yang pertama. Dengan cara ini suara anda tidak akan bercampur dengan nafas jika dihasilkan dengan cara yang benar.
Cara lain untuk menutup pita suara dengan benar adalah dengan meminta siswa untuk menambah energi pada saat tengah bernyanyi. Pada kebanyakan penyanyi yang kurang berpengalaman, pita suara tidak menutup dengan sempurna karena tubuh tidak cukup bekerja keras dalam menghasilkan suara yang baik. Berikut ini merupakan beberapa penyebab dari kurangnya kerja tubuh dalam menghasilkan suara yang baik:
1. Postur yang buruk;
2. Pernafasan yang dangkal;
3. Kurang baiknya fase penahanan nafas;
4. Bernyanyi terlalu lembut (kesalahan konsep tentang kekuatan suara);
5. Meniru model suara dari penyanyi yang buruk;
6. Kegagalan dalam mengenali kualitas suara yang baik;
7. Jarang terlibat dalam kegiatan bermusik.
Masalah yang berhubungan dengan suara mendesah bukan berasal dari kurangnya penggunaan energi dalam menyanyi. Hal ini dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Salah satunya dengan cara meminta siswa untuk menyanyi lebih keras dari biasanya.
Bersamaan dengan itu, mintalah siswa untuk melakukan gerak mengangkat secara lembut, seperti berpura-pura akan mengangkat sesuatu benda yang agak berat seperti buku tebal, yang diangkat oleh salah satu lengan dari batas pinggang ke atas. Dalam aksi ini, pita suara akan cendrung menutup untuk menunjang gerakan lengan. Jangan mengangkat benda yang terlalu berat karena epiglottis dan kerah larynx (larygeal collar) akan cendrung untuk menutup sehingga menyulitkan proses fonasi.
Pendekatan lain adalah dengan mengimitasi cara menyanyi seorang penyanyi opera, atau menyanyi dengan cara “dilebih-lebihkan”. Dengan cara ini diharapkan siswa yang bersangkutan dapat memproduksi suara yang lebih hidup dan bulat.
Cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk postur dan kebiasaan bernafas yang baik bagi siswa yang bersangkutan, atau dengan membuat siswa yang menyadari fungsi dari mekanisme penunjang nafas. Caranya adalah dengan menirukan cara tertawa Santa Claus (Ho, ho, ho), atau meneriakkan kata panggilan seperti, “Hai”, atau dapat juga dengan meminta siswa menyanyi dengan keras seperti jika ia mencoba untuk menyanyi untuk penonton yang berada dibarisan belakang.
Masalah yang berhubungan dengan kurangnya keterlibatan siswa yang bersangkutan dalam musik dapat ditanggulangi dengan memilihkan lagu-lagu yang dapat direspon secara cepat. Mintalah siswa untuk menghafal syair dalam lagu dan kemudian mengucapkannya secara ekspresif. Cara memberikan sebuah interpretasi terhadap lagu yang bersangkutan dapat dengan cepat memberikan respon yang ekspresif. Cara lainnya adalah dengan memperdengarkan rekaman suara penyanyi dengan lagu yang sama atau serupa. Semua siswa diharuskan memiliki model suara yang ideal, hal ini akan lebih cepat dicapai dengan cara banyak mendengarkan rekaman penyanyi-penyanyi yang ahli.
Huruf hidup dan konsonan dapat pula digunakan untuk menghilangkan suara mendesah. Huruf hidup yang bersifat frontal (seperti [i], dan [e]) memiliki sifat tegas dalam produksinya dibanding dengan huruf hidup lainnya. Karenanya, huruf-huruf hidup diatas sangat kondusif untuk menghilangkan suara yang mendesah.
Untuk langkah pertama, berikan siswa latihan vokalisi dengan menggunakan huruf hidup frontal, jika suara mendesah masih terdengar, mintalah ia untuk merapatkan giginya saat melakukan vokalisi tersebut. Posisi rahang yang tertutup rapat ini sebenarnya tidak dianjurkan dalam dalam menyanyi, namun sebagai jalan “jalan pintas” aksi ini dapat memperkuat aksi larynx untuk menghasilkan suara yang terbebas dari desahan nafas. Aksi ini harus dihentikan segera setelah siswa yang bersangkutan telah dapat menghasilkan suara tanpa desah dengan posisi rahang yang rileks.
Cara lain untuk menghilangkan suara mendesah adalah dengan menggunakan huruf-huruf konsonan nasal seperti: [m], [n], dan [ŋ] yang dikombinasi dengan konsonan yang memerlukan aksi bibir dan/atau lidah yang kuat. Cobalah vokalisi lima buah nada (do, re, mi, fa, sol) secara naik dan turun dengan menggunakan kata seperti: “ding, ding, ding, ding, ding; bum, bum, bum, bum, bum; no, no, no, no, no; wing, wing, wing, wing, wing, ting, ting, ting, ting, ting, dan kata-kata sejenisnya.
Salah satu atau beberapa dari kata tersebut dapat digunakan sebagai pengganti salah satu kata yang terdapat di dalam lagu. Tingkat efektifitas penggunaan berbagai konsonan diatas akan sangat bervariasi bagi setiap siswa, sangatlah disarankan untuk mencoba beberapa dari kata diatas. Menurut pengalaman, kata, “ding” lebih sering memberikan hasil yang memuaskan.
Salah satu masalah dalam memperbaiki suara yang mendesah adalah bahwa kebanyakan siswa tidak menyadari akan hal tersebut. Suara seperti ini sudah dianggap sebagai bagian dari suara alaminya, dan bukan dianggap sebagai bunyi nafas. Anda dapat memberitahukannya dengan cara merekam suaranya dengan menggunakan tape recorder dan terus memantau kemajuan yang dicapainya, jika hal ini tidak dilakukan, siswa yang bersangkutan akan tetap kembali pada kebiasaan buruknya.
Permasalahan lain yang harus diwaspadai adalah bahwa penyebab suara mendesah adalah adanya faktor akil balig pada siswa yang bersangkutan. Ini adalah periode dimana otot-otot interarytenoid tidak dapat atau tidak menutup glottis dengan rapat. Akibatnya terdapat sebuah celah diantara vocal process pada tulang rawan arytenoid. Celah ini sangat umum terjadi pada suara remaja yang mengalami akil balig dan dikenal dengan sebutan mutational chink (celah mutasional).
Meskipun siswa yang bersangkutan memiliki celah seperti ini, ia masih dapat mengurangi jumlah nafas yang keluar melalui celah tersebut. Anda dapat melakukan perbaikan pada jenis suara seperti ini dengan menggunakan seluruh metode yang telah dijelaskan sebelumnya, namun tetap dengan mengedepankan kehati-hatian. Dalam masalah ini William Vennard menyatakan, “Young singers should not be driven to eliminate this breathiness impatiently”(Untuk para penyanyi muda, proses penghilangan suara mendesah ini jangan dilakukan dengan tergesa-gesa). Suara seperti ini akan hilang dengan sendirinya jika proses perubahan suara dalam dirinya telah berakhir.
Jika semua metode yang telah dilakukan tidak membawa hasil, masih terdapat satu cara lagi yang dapat ditempuh. Cara yang satu ini tergolong ekstrim, yaitu dengan meminta siswa yang bersangkutan untuk membuat suara yang tercekik atau tegang. Karena banyak metode yang digunakan tidak membuahkan hasil, maka anda harus melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan ketegangan yang cukup untuk dapat menutup pita suaranya dengan baik. Pada kenyataannya, cara ini mengandung resiko cidera yang besar karena adanya ketegangan yang berlebihan pada saat bersuara, dan cara ini juga bukan dimaksudkan untuk menggantikan suatu kebiasaan buruk dalam menyanyi dengan kebiasaan buruk lainnya. Namun demikian, seseorang yang memiliki suara mendesah secara terus-menerus akan jarang sekali mengalami cidera saat pertama kali mencoba untuk menggunakan suara yang tercekik; biasanya mereka akan cendrung mendekati situasi suara yang berimbang ketimbang suara yang tercekik. Saran berikutnya yang mungkin akan berhasil adalah meminta siswa yang bersangkutan untuk menirukan gaya penyanyi country dengan “youdel”-nya. Pendekatan-pendekatan yang memacu ketegangan seperti diatas tidak dimaksudkan untuk dipergunakan dalam jangka waktu yang lama dan harus segera diakhiri begitu siswa yang bersangkutan telah mengalami kemajuan dalam suaranya.
Rangkuman Prosedur Perbaikan Untuk Jenis Suara Mendesah (Hipofungsional)
1. Bersenandung (dengan vibrasi pada langit-langit mulut);
2. Menggunakan energi yang lebih besar dengan cara menyanyi lebih keras;
3. Menggunakan energi yang lebih besar dengan latihan mengangkat beban;
4. Menirukan gaya penyanyi opera;
5. Menanamkan kebiasaan berpostur dan bernafas yang baik;
6. Mengaktifkan mekanisme penunjang nafas dengan melakukan latihan-latihan;
7. Menyanyi untuk barisan penonton paling belakang dari auditorium;
8. Memiliki keterlibatan yang kuat dalam musik;
9. Membentuk suara yang ideal dengan cara mendengarkan penyanyi-penyanyi yang baik;
10. Melakukan vokalisi dengan menggunakan huruf hidup frontal;
11. Melakukan vokalisi dengan menggunakan konsonan nasal;
12. Menirukan suara tercekik.
▪ Suara Desah yang Dipaksakan.
Dalam permasalahan suara yang mengandung nafas (breathy voice) terdapat sebuah jenis masalah yang memerlukan penjelasan khusus karena adanya faktor-faktor yang komplikatif didalamnya, jenis ini dikenal dengan suara desah yang dipaksakan.
Komplikasi yang terdapat didalam masalah jenis ini berasal dari rendahnya fungsi mekanisme pada larynx yang diikuti dengan rendahnya fungsi mekanisme penunjang nafas. Perbaikan yang ditujukan pada salah satu faktor dapat memperburuk faktor lainnya. Menarik otot-otot perut dapat menghasilkan tekanan udara yang besar pada larynx karena pita suara tidak menutup dengan baik sehingga udara akan menekan pita suara dengan derasnya. Pendekatan terbaik dalam memperbaiki jenis kesalahan seperti ini adalah melakukan pendekatan pada mekanisme penunjang nafas terlebih dahulu melalui metode-metode yang telah dijelaskan sebelumnya, barulah kemudian melakukan perbaikan pada proses fonasi yang mendesah dengan menggunakan metode yang terdapat pada daftar diatas. Hindari metode-metode yang mungkin akan mengakibatkan timbulnya tunjangan nafas yang berlebihan seperti pada nomer 2, 3, 4, 6, 7, dan 8.
▪ Fonasi Hiperfungsional,
Fonasi hiperfungsional dapat didefinisikan sebagai: terdapatnya aksi fonasi yang berlebihan pada mekanisme larynx sehingga menyebabkan suara yang terdengar tegang, keras dan serak.
Penyebab utama dari masalah ini adalah adanya ketegangan yang berlebihan didalam pita suara yang terkadang berasal dari ketegangan pada otot-otot larynx dan daerah sekitarnya. Jika suatu proses fonasi disertai dengan tunjangan nafas yang bersifat hiperfungsional, suara yang dihasilkan akan terdengar parau, melengking, serak, kasar, tertarik bahkan tercekik.
Jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama atau dilakukan secara ekstrim, fonasi hiperfungsional dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan yang kemungkinan memerlukan perawatan secara medis. Banyak penyanyi yang tidak menyadari bahwa pada dasarnya kesalahan yang dideritanya termasuk dalam apa yang dalam bidang vokal disebut sebagai “vocal cripples” atau kecacatan vokal, sehingga penyanyi yang bersangkutan bantuan seorang dokter spesialis THT untuk memperbaiki masalah dalam organ menyanyinya.
Sangat disarankan bagi setiap guru vokal untuk dapat mengenali gejala-gejala dari apa yang sering disebut sebagai, “vocal abuse” (penyalahgunaan suara) atau “vocal misuse” (kesalahan dalam menggunakan suara), sehingga dapat dengan segera memberikan saran pada siswa yang bersangkutan untuk berkonsultasi pada dokter ahli THT.
Dalam masalah ini mungkin saja siswa tidak mengalami kesalahan yang bersifat organik atau kesalahan yang mengakibatkan konsekuensi serius, karena instrumen vokal manusia pada dasarnya sangat tahan menghadapi berbagai macam penyalahgunaan suara yang dibebankan kepadanya. Namun begitu, tetap saja diperlukan saran dari seorang dokter ahli. Semakin dini pencegahan dapat dilakukan, semakin besar kemungkinan untuk memperbaikinya. Dalam situasi seperti ini, pertolongan seorang guru sangat dibutuhkan dalam mengajarkan siswa yang bersangkutan mengenai pembentukan kebiasaan bernyanyi yang baik sehingga problem yang terjadi dapat diperbaiki sesegera mungkin.
Gejala yang sering terjadi pada kesalahan dalam penggunaan suara adalah terdengarnya keserakan pada suara. Morton Cooper menyatakan bahwa keserakan merupakan kualitas yang paling sering ditemui dalam vokal klinis. Keserakan merupakan fenomena yang umum ditemui, namun tidak memiliki gejala yang spesifik. Penyebabnya dapat berhubungan dengan alergi, infeksi karena virus, laryngitis, pertumbuhan pita suara, pengobatan, perubahan temperatur, sinusitis, polusi udara, kesalahan dalam penggunaan suara dan banyak lagi lainnya.
Penyebab dari keserakan hanya dapat ditentukan oleh seorang dokter yang ahli, namun seorang guru vokal harus dapat mengenali bahwa keserakan yang terjadi pada suara siswanya merupakan sebuah tanda bahaya dan dapat memperingati siswa yang bersangkutan. Jika keserakan terjadi dalam jangka waktu yang lama, terjadi hampir disetiap kali siswa yang bersangkutan menyanyi dalam jangka waktu yang agak lama, atau terdapat keserakan dalam suara berbicaranya, nasihat terbaik bagi siswa tersebut adalah segera mendatangi seorang laryngologis.
Gejala umum lainnya dari kesalahan dalam penggunaan suara adalah menyempitnya wilayah nada setelah penyanyi yang bersangkutan menyanyi untuk beberapa menit. Hal ini sering terjadi pada penyanyi yang memiliki wilayah nada yang cukup luas (biasanya penyanyi yang bersangkutan kehilangan nada-nada tertingginya, nada-nada terendahnya atau kedua-duanya). Tapi hal ini dapat juga terjadi pada nada-nada tengah, terutama pada wanita. Ini merupakan suatu indikasi dari terlalu banyaknya ketegangan sehingga suara mulai kehilangan fungsi normalnya jika digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Suara yang dihasilkan dengan baik akan mempunyai daya tahan yang baik. Tidak pernah ada kondisi yang disebut sebagai “overuse” (penggunaan suara secara berlebihan) dalam berbicara, jika suara berbicara digunakan secara benar. Kutipan dari West, Ansberry dan Carr menyatakan, “No amount of vigorous vocalization can damage the edges of the vocal folds if the voice is properly used”(Vokalisi yang dilakukan dengan sering tidak dapat merusak tepi pita suara jika suara digunakan dengan benar). Ia mengidentifikasikan kesalahan dalam penggunaan suara sebagai kurangnya pengetahuan mengenai menyanyi dengan baik, kurangnya pelatihan vokal yang baik, buruknya model vokal yang dimiliki, kesulitan emosi, dan/atau masalah-masalah psikologis. Jika seorang penyanyi sering kehilangan wilayah nadanya, atau bahkan kehilangan suaranya setelah menyanyi, itu merupakan sebuah indikasi kuat bahwa penyanyi tersebut kurang mendalami pengetahuan dan/atau teknik vokal. Penyanyi seperti ini sangat membutuhkan seorang guru yang kompeten dibidangnya.
Gejala yang sering ditemukan dalam proses fonasi yang tertekan adalah terbatasnya atau tidak terdapatnya vibrasi – sering disebut sebagai “nada lurus”. Tidak adanya vibrato pada suara disebabkan oleh larynx yang mengalami ketegangan.
Beberapa faktor yang menjadi kontributor pada fonasi hiperfungsional dan yang berhubungan dengan masalah-masalah vokal adalah:
Sebuah release yang baik seharusnya dilakukan pada saat akhir secara cepat, bersih dan tepat. Lemahnya musikalitas seorang penyanyi merupakan penyebab utama dari release yang buruk. Salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang penyanyi adalah kemampuan untuk menghitung nada dengan tepat, karena hanya dengan cara ini ia dapat mengetahui kapan saatnya ia harus memulai, memperpanjang dan mengakhiri sebuah nada.
Sebagian besar kata dalam bahasa Inggris berakhir dengan huruf konsonan, karenanya konsonan dalam kata berbahasa inggis memiliki fungsi yang sangat vital dalam melakukan release. Sebuah release akan terdengar baik jika sebuah huruf konsonan akhir dapat diucapkan dengan cepat, tegas dan tepat pada waktunya. Sayangnya, banyak penyanyi yang tidak mengindahkan konsonan akhir, sehingga jarang sekali mereka menggunakan energi atau kelincahan yang cukup dalam melakukan release.
Sebuah huruf konsonan harus dinyanyikan hingga batas akhir hitungan, kemudian diakhiri dengan cara yang cepat, dan tegas. Bayangkanlah bahwa sebuah konsonan akhir merupakan batas akhir dari suatu nada. Jangan mengantisipasi release saat anda baru saja mulai menyanyikan sebuah huruf hidup, tunggulah dan biarkan nada tersebut berbunyi hingga pada saatnya diakhiri dengan konsonan.
Jangan mencoba untuk menghentikan sebuah nada dengan cara “menjepit” tenggorokan atau dengan memutuskan nafas anda. Sebuah release yang dilakukan dengan cara seperti itu akan menimbulkan ketegangan dan seringkali berakhir dengan suara yang serak. Biarkanlah organ-organ pembentuk suara (bibir, lidah dan rahang) melepaskannya secara alami. Jika sebuah nada berakhir dengan huruf hidup, anda harus tetap mengakhirinya dengan cara yang sama dengan nada yang memiliki huruf akhir konsonan. Teknik menyanyi tidak memiliki cara yang berbeda dalam melakukan dua aksi diatas.
Pada prakteknya, pita suara dan mekanisme penunjang juga melakukan pelepasan suara tepat bersamaan dengan aksi pelepasan yang dilakukan oleh bibir, lidah dan rahang dalam suatu gerakan yang tersingkronisasi. Karenanya, sangatlah baik bagi bagi seorang penyanyi untuk dapat merasakan bahwa alat-alat pengucapannya memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam fase pengakhiran nada ini.
KESIMPULAN:
Fonasi merupakan proses yang sangat terkait dengan pernafasan. Sangatlah mungkin melakukan pernafasan tanpa melakukan fonasi, namun sangatlah mustahil untuk melakukan fonasi tanpa mendapat bantuan dari nafas.
Dalam fonasi yang ideal dan berimbang, kedua proses tersebut terkoordinasi sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan pitch dan tingkat dinamik yang diinginkan dengan hanya menggunakan usaha minimal dari mekanisme penunjang nafas.
Dengan kata lain, hanya dengan tekanan udara dan ketegangan pita suara yang sangat berimbang yang dapat menghasilkan vibrasi yang baik tanpa menimbulkan ketegangan yang tidak diperlukan ataupun inefisiensi nafas.
Tubuh penyanyi harus dilatih agar dapat berfungsi sebagai sebuah kesatuan, dibawah kendali pikiran, bukan sebagai kelompok yang terpisah-pisah yang dikendalikan secara lokal. Aksi yang terkoordinasi merupakan dasar bagi fonasi yang baik.
Kesalahan Yang Berhubungan Dengan Fonasi
Kesalahan dalam fonasi diperkirakan berasal dari tidak berfungsinya mekanisme larynx pada saat penyanyi yang bersangkutan menggunakan “suara asli”-nya. Kesalahan pada fonasi dibagi menjadi dua jenis: hipofungsional dan hiperfungsional.
▪ Fonasi hipofungsional, merupakan proses fonasi yang gagal dalam memenuhi tuntutan aktivitas yang dibutuhkan oleh mekanisme larynx. Kesalahan ini sering terjadi pada penyanyi pemula, namun juga dapat disebabkan oleh sebab faktor penuaan usia pada penyanyi yang bersangkutan.
Kesalahan ini merupakan kesalahan yang paling banyak terjadi pada penyanyi. Penyebab utama dari kesalahan hipofungsional ini adalah tidak cukup tertutupnya glottis pada pita suara secara baik. Dampak dari kesalahan ini adalah timbulnya suara yang bercampur dengan nafas, dimana aliran udara dapat dengan bebas mengalir keluar dari celah dari glottis yang tidak tertutup secara baik tersebut.
Pada saat pita suara tidak menutup dengan baik, tunjangan nafas akan mendorong udara yang “tidak terpakai” ini melalui celah pada glottis. Nafas yang terbung percumai sama dengan nada yang terbuang percuma, dan hal ini harus dihindari. Udara yang terbuang percuma juga menyebabkan lemahnya pengendalian nafas. Sebuah ban dengan pentil yang rusak akan cepat sekali kempes, seorang penyanyi yang tidak mampu menutup celah glottisnya dengan baik akan cepat sekali kehabisan nafas.
Seorang pakar vokal terkenal, Van A. Christy menyatakan, “Efficient tone is basic for efficient breath control” (nada yang efisien merupakan dasar bagi pengendalian nafas yang efisien). Dalam konteks ini, nada yang efisien dan aksi pita suara yang efisien merupakan hal yang sinonim).
Prosedur terbaik bagi perbaikan suara yang bercampur nafas adalah melatih pita suara agar dapat menutup dengan baik. Cara ini tidaklah mudah karena kita tidak memiliki kendali langsung terhadap pita suara. Tidak mungkin kita dapat memerintah interarytenoid dan otot-otot lateral cricoaritenoid untuk menutup glottis secara langsung. Aksi ini harus dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan pola-pola pemikiran tertentu serta aksi refleks yang terkondisi dengan baik. Sebagai contoh, berpikir untuk melakukan fase awal menguap akan menyebabkan merenggangnya jarak kedua pita suara. Sebaliknya, berfikir untuk melakukan fase awal bersenandung akan membuat pita suara merapat dan menutup celah glottis. Lakukanlah percobaan berikut ini:
Hiruplah nafas dalam dengan nyaman dan berfikirlah untuk bersenandung. Anda akan merasakan bahwa mulut dan pita suara anda menutup untuk mempersiapkan aksi bersenandung tersebut (Jika anda menarik otot perut dengan kuat, anda akan merasakan bahwa pita suara anda menahan nafas yang akan keluar).
Pada saat anda mulai bersenandung, rapatkan gigi anda kuat-kuat dan cobalah untuk merasakan adanya getaran berdengung pada langit-langit mulut anda. Aksi bersenandung seperti ini terkadang menghasilkan kualitas bunyi suara yang kurang baik, yaitu suara yang terdengar bercampur nafas.
Kini cobalah bersenandung dengan mulut yang tetap tertutup sambil memisahkan gigi anda dengan cara menurunkan rahang bawah anda perlahan-lahan. Cobalah untuk mempertahan-kan getaran pada langit-langit selama mungkin. Aksi bersenandung jenis ini akan menimbulkan perasaan rileks dan akan menghasilkan kualitas bunyi suara yang lebih baik dibandingkan cara yang pertama. Dengan cara ini suara anda tidak akan bercampur dengan nafas jika dihasilkan dengan cara yang benar.
Cara lain untuk menutup pita suara dengan benar adalah dengan meminta siswa untuk menambah energi pada saat tengah bernyanyi. Pada kebanyakan penyanyi yang kurang berpengalaman, pita suara tidak menutup dengan sempurna karena tubuh tidak cukup bekerja keras dalam menghasilkan suara yang baik. Berikut ini merupakan beberapa penyebab dari kurangnya kerja tubuh dalam menghasilkan suara yang baik:
1. Postur yang buruk;
2. Pernafasan yang dangkal;
3. Kurang baiknya fase penahanan nafas;
4. Bernyanyi terlalu lembut (kesalahan konsep tentang kekuatan suara);
5. Meniru model suara dari penyanyi yang buruk;
6. Kegagalan dalam mengenali kualitas suara yang baik;
7. Jarang terlibat dalam kegiatan bermusik.
Masalah yang berhubungan dengan suara mendesah bukan berasal dari kurangnya penggunaan energi dalam menyanyi. Hal ini dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Salah satunya dengan cara meminta siswa untuk menyanyi lebih keras dari biasanya.
Bersamaan dengan itu, mintalah siswa untuk melakukan gerak mengangkat secara lembut, seperti berpura-pura akan mengangkat sesuatu benda yang agak berat seperti buku tebal, yang diangkat oleh salah satu lengan dari batas pinggang ke atas. Dalam aksi ini, pita suara akan cendrung menutup untuk menunjang gerakan lengan. Jangan mengangkat benda yang terlalu berat karena epiglottis dan kerah larynx (larygeal collar) akan cendrung untuk menutup sehingga menyulitkan proses fonasi.
Pendekatan lain adalah dengan mengimitasi cara menyanyi seorang penyanyi opera, atau menyanyi dengan cara “dilebih-lebihkan”. Dengan cara ini diharapkan siswa yang bersangkutan dapat memproduksi suara yang lebih hidup dan bulat.
Cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan membentuk postur dan kebiasaan bernafas yang baik bagi siswa yang bersangkutan, atau dengan membuat siswa yang menyadari fungsi dari mekanisme penunjang nafas. Caranya adalah dengan menirukan cara tertawa Santa Claus (Ho, ho, ho), atau meneriakkan kata panggilan seperti, “Hai”, atau dapat juga dengan meminta siswa menyanyi dengan keras seperti jika ia mencoba untuk menyanyi untuk penonton yang berada dibarisan belakang.
Masalah yang berhubungan dengan kurangnya keterlibatan siswa yang bersangkutan dalam musik dapat ditanggulangi dengan memilihkan lagu-lagu yang dapat direspon secara cepat. Mintalah siswa untuk menghafal syair dalam lagu dan kemudian mengucapkannya secara ekspresif. Cara memberikan sebuah interpretasi terhadap lagu yang bersangkutan dapat dengan cepat memberikan respon yang ekspresif. Cara lainnya adalah dengan memperdengarkan rekaman suara penyanyi dengan lagu yang sama atau serupa. Semua siswa diharuskan memiliki model suara yang ideal, hal ini akan lebih cepat dicapai dengan cara banyak mendengarkan rekaman penyanyi-penyanyi yang ahli.
Huruf hidup dan konsonan dapat pula digunakan untuk menghilangkan suara mendesah. Huruf hidup yang bersifat frontal (seperti [i], dan [e]) memiliki sifat tegas dalam produksinya dibanding dengan huruf hidup lainnya. Karenanya, huruf-huruf hidup diatas sangat kondusif untuk menghilangkan suara yang mendesah.
Untuk langkah pertama, berikan siswa latihan vokalisi dengan menggunakan huruf hidup frontal, jika suara mendesah masih terdengar, mintalah ia untuk merapatkan giginya saat melakukan vokalisi tersebut. Posisi rahang yang tertutup rapat ini sebenarnya tidak dianjurkan dalam dalam menyanyi, namun sebagai jalan “jalan pintas” aksi ini dapat memperkuat aksi larynx untuk menghasilkan suara yang terbebas dari desahan nafas. Aksi ini harus dihentikan segera setelah siswa yang bersangkutan telah dapat menghasilkan suara tanpa desah dengan posisi rahang yang rileks.
Cara lain untuk menghilangkan suara mendesah adalah dengan menggunakan huruf-huruf konsonan nasal seperti: [m], [n], dan [ŋ] yang dikombinasi dengan konsonan yang memerlukan aksi bibir dan/atau lidah yang kuat. Cobalah vokalisi lima buah nada (do, re, mi, fa, sol) secara naik dan turun dengan menggunakan kata seperti: “ding, ding, ding, ding, ding; bum, bum, bum, bum, bum; no, no, no, no, no; wing, wing, wing, wing, wing, ting, ting, ting, ting, ting, dan kata-kata sejenisnya.
Salah satu atau beberapa dari kata tersebut dapat digunakan sebagai pengganti salah satu kata yang terdapat di dalam lagu. Tingkat efektifitas penggunaan berbagai konsonan diatas akan sangat bervariasi bagi setiap siswa, sangatlah disarankan untuk mencoba beberapa dari kata diatas. Menurut pengalaman, kata, “ding” lebih sering memberikan hasil yang memuaskan.
Salah satu masalah dalam memperbaiki suara yang mendesah adalah bahwa kebanyakan siswa tidak menyadari akan hal tersebut. Suara seperti ini sudah dianggap sebagai bagian dari suara alaminya, dan bukan dianggap sebagai bunyi nafas. Anda dapat memberitahukannya dengan cara merekam suaranya dengan menggunakan tape recorder dan terus memantau kemajuan yang dicapainya, jika hal ini tidak dilakukan, siswa yang bersangkutan akan tetap kembali pada kebiasaan buruknya.
Permasalahan lain yang harus diwaspadai adalah bahwa penyebab suara mendesah adalah adanya faktor akil balig pada siswa yang bersangkutan. Ini adalah periode dimana otot-otot interarytenoid tidak dapat atau tidak menutup glottis dengan rapat. Akibatnya terdapat sebuah celah diantara vocal process pada tulang rawan arytenoid. Celah ini sangat umum terjadi pada suara remaja yang mengalami akil balig dan dikenal dengan sebutan mutational chink (celah mutasional).
Meskipun siswa yang bersangkutan memiliki celah seperti ini, ia masih dapat mengurangi jumlah nafas yang keluar melalui celah tersebut. Anda dapat melakukan perbaikan pada jenis suara seperti ini dengan menggunakan seluruh metode yang telah dijelaskan sebelumnya, namun tetap dengan mengedepankan kehati-hatian. Dalam masalah ini William Vennard menyatakan, “Young singers should not be driven to eliminate this breathiness impatiently”(Untuk para penyanyi muda, proses penghilangan suara mendesah ini jangan dilakukan dengan tergesa-gesa). Suara seperti ini akan hilang dengan sendirinya jika proses perubahan suara dalam dirinya telah berakhir.
Jika semua metode yang telah dilakukan tidak membawa hasil, masih terdapat satu cara lagi yang dapat ditempuh. Cara yang satu ini tergolong ekstrim, yaitu dengan meminta siswa yang bersangkutan untuk membuat suara yang tercekik atau tegang. Karena banyak metode yang digunakan tidak membuahkan hasil, maka anda harus melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan ketegangan yang cukup untuk dapat menutup pita suaranya dengan baik. Pada kenyataannya, cara ini mengandung resiko cidera yang besar karena adanya ketegangan yang berlebihan pada saat bersuara, dan cara ini juga bukan dimaksudkan untuk menggantikan suatu kebiasaan buruk dalam menyanyi dengan kebiasaan buruk lainnya. Namun demikian, seseorang yang memiliki suara mendesah secara terus-menerus akan jarang sekali mengalami cidera saat pertama kali mencoba untuk menggunakan suara yang tercekik; biasanya mereka akan cendrung mendekati situasi suara yang berimbang ketimbang suara yang tercekik. Saran berikutnya yang mungkin akan berhasil adalah meminta siswa yang bersangkutan untuk menirukan gaya penyanyi country dengan “youdel”-nya. Pendekatan-pendekatan yang memacu ketegangan seperti diatas tidak dimaksudkan untuk dipergunakan dalam jangka waktu yang lama dan harus segera diakhiri begitu siswa yang bersangkutan telah mengalami kemajuan dalam suaranya.
Rangkuman Prosedur Perbaikan Untuk Jenis Suara Mendesah (Hipofungsional)
1. Bersenandung (dengan vibrasi pada langit-langit mulut);
2. Menggunakan energi yang lebih besar dengan cara menyanyi lebih keras;
3. Menggunakan energi yang lebih besar dengan latihan mengangkat beban;
4. Menirukan gaya penyanyi opera;
5. Menanamkan kebiasaan berpostur dan bernafas yang baik;
6. Mengaktifkan mekanisme penunjang nafas dengan melakukan latihan-latihan;
7. Menyanyi untuk barisan penonton paling belakang dari auditorium;
8. Memiliki keterlibatan yang kuat dalam musik;
9. Membentuk suara yang ideal dengan cara mendengarkan penyanyi-penyanyi yang baik;
10. Melakukan vokalisi dengan menggunakan huruf hidup frontal;
11. Melakukan vokalisi dengan menggunakan konsonan nasal;
12. Menirukan suara tercekik.
▪ Suara Desah yang Dipaksakan.
Dalam permasalahan suara yang mengandung nafas (breathy voice) terdapat sebuah jenis masalah yang memerlukan penjelasan khusus karena adanya faktor-faktor yang komplikatif didalamnya, jenis ini dikenal dengan suara desah yang dipaksakan.
Komplikasi yang terdapat didalam masalah jenis ini berasal dari rendahnya fungsi mekanisme pada larynx yang diikuti dengan rendahnya fungsi mekanisme penunjang nafas. Perbaikan yang ditujukan pada salah satu faktor dapat memperburuk faktor lainnya. Menarik otot-otot perut dapat menghasilkan tekanan udara yang besar pada larynx karena pita suara tidak menutup dengan baik sehingga udara akan menekan pita suara dengan derasnya. Pendekatan terbaik dalam memperbaiki jenis kesalahan seperti ini adalah melakukan pendekatan pada mekanisme penunjang nafas terlebih dahulu melalui metode-metode yang telah dijelaskan sebelumnya, barulah kemudian melakukan perbaikan pada proses fonasi yang mendesah dengan menggunakan metode yang terdapat pada daftar diatas. Hindari metode-metode yang mungkin akan mengakibatkan timbulnya tunjangan nafas yang berlebihan seperti pada nomer 2, 3, 4, 6, 7, dan 8.
▪ Fonasi Hiperfungsional,
Fonasi hiperfungsional dapat didefinisikan sebagai: terdapatnya aksi fonasi yang berlebihan pada mekanisme larynx sehingga menyebabkan suara yang terdengar tegang, keras dan serak.
Penyebab utama dari masalah ini adalah adanya ketegangan yang berlebihan didalam pita suara yang terkadang berasal dari ketegangan pada otot-otot larynx dan daerah sekitarnya. Jika suatu proses fonasi disertai dengan tunjangan nafas yang bersifat hiperfungsional, suara yang dihasilkan akan terdengar parau, melengking, serak, kasar, tertarik bahkan tercekik.
Jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama atau dilakukan secara ekstrim, fonasi hiperfungsional dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan yang kemungkinan memerlukan perawatan secara medis. Banyak penyanyi yang tidak menyadari bahwa pada dasarnya kesalahan yang dideritanya termasuk dalam apa yang dalam bidang vokal disebut sebagai “vocal cripples” atau kecacatan vokal, sehingga penyanyi yang bersangkutan bantuan seorang dokter spesialis THT untuk memperbaiki masalah dalam organ menyanyinya.
Sangat disarankan bagi setiap guru vokal untuk dapat mengenali gejala-gejala dari apa yang sering disebut sebagai, “vocal abuse” (penyalahgunaan suara) atau “vocal misuse” (kesalahan dalam menggunakan suara), sehingga dapat dengan segera memberikan saran pada siswa yang bersangkutan untuk berkonsultasi pada dokter ahli THT.
Dalam masalah ini mungkin saja siswa tidak mengalami kesalahan yang bersifat organik atau kesalahan yang mengakibatkan konsekuensi serius, karena instrumen vokal manusia pada dasarnya sangat tahan menghadapi berbagai macam penyalahgunaan suara yang dibebankan kepadanya. Namun begitu, tetap saja diperlukan saran dari seorang dokter ahli. Semakin dini pencegahan dapat dilakukan, semakin besar kemungkinan untuk memperbaikinya. Dalam situasi seperti ini, pertolongan seorang guru sangat dibutuhkan dalam mengajarkan siswa yang bersangkutan mengenai pembentukan kebiasaan bernyanyi yang baik sehingga problem yang terjadi dapat diperbaiki sesegera mungkin.
Gejala yang sering terjadi pada kesalahan dalam penggunaan suara adalah terdengarnya keserakan pada suara. Morton Cooper menyatakan bahwa keserakan merupakan kualitas yang paling sering ditemui dalam vokal klinis. Keserakan merupakan fenomena yang umum ditemui, namun tidak memiliki gejala yang spesifik. Penyebabnya dapat berhubungan dengan alergi, infeksi karena virus, laryngitis, pertumbuhan pita suara, pengobatan, perubahan temperatur, sinusitis, polusi udara, kesalahan dalam penggunaan suara dan banyak lagi lainnya.
Penyebab dari keserakan hanya dapat ditentukan oleh seorang dokter yang ahli, namun seorang guru vokal harus dapat mengenali bahwa keserakan yang terjadi pada suara siswanya merupakan sebuah tanda bahaya dan dapat memperingati siswa yang bersangkutan. Jika keserakan terjadi dalam jangka waktu yang lama, terjadi hampir disetiap kali siswa yang bersangkutan menyanyi dalam jangka waktu yang agak lama, atau terdapat keserakan dalam suara berbicaranya, nasihat terbaik bagi siswa tersebut adalah segera mendatangi seorang laryngologis.
Gejala umum lainnya dari kesalahan dalam penggunaan suara adalah menyempitnya wilayah nada setelah penyanyi yang bersangkutan menyanyi untuk beberapa menit. Hal ini sering terjadi pada penyanyi yang memiliki wilayah nada yang cukup luas (biasanya penyanyi yang bersangkutan kehilangan nada-nada tertingginya, nada-nada terendahnya atau kedua-duanya). Tapi hal ini dapat juga terjadi pada nada-nada tengah, terutama pada wanita. Ini merupakan suatu indikasi dari terlalu banyaknya ketegangan sehingga suara mulai kehilangan fungsi normalnya jika digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Suara yang dihasilkan dengan baik akan mempunyai daya tahan yang baik. Tidak pernah ada kondisi yang disebut sebagai “overuse” (penggunaan suara secara berlebihan) dalam berbicara, jika suara berbicara digunakan secara benar. Kutipan dari West, Ansberry dan Carr menyatakan, “No amount of vigorous vocalization can damage the edges of the vocal folds if the voice is properly used”(Vokalisi yang dilakukan dengan sering tidak dapat merusak tepi pita suara jika suara digunakan dengan benar). Ia mengidentifikasikan kesalahan dalam penggunaan suara sebagai kurangnya pengetahuan mengenai menyanyi dengan baik, kurangnya pelatihan vokal yang baik, buruknya model vokal yang dimiliki, kesulitan emosi, dan/atau masalah-masalah psikologis. Jika seorang penyanyi sering kehilangan wilayah nadanya, atau bahkan kehilangan suaranya setelah menyanyi, itu merupakan sebuah indikasi kuat bahwa penyanyi tersebut kurang mendalami pengetahuan dan/atau teknik vokal. Penyanyi seperti ini sangat membutuhkan seorang guru yang kompeten dibidangnya.
Gejala yang sering ditemukan dalam proses fonasi yang tertekan adalah terbatasnya atau tidak terdapatnya vibrasi – sering disebut sebagai “nada lurus”. Tidak adanya vibrato pada suara disebabkan oleh larynx yang mengalami ketegangan.
Beberapa faktor yang menjadi kontributor pada fonasi hiperfungsional dan yang berhubungan dengan masalah-masalah vokal adalah:
- Menyanyi
dalam klasifikasi suara yang salah, terutama pada tesitura yang terlalu
tinggi;
- Berbicara
dibawah atau diatas tingkat nada yang optimal;
- Menyanyi
atau berbicara pada lingkungan yang ramai;
- Kebiasaan
menyanyi atau berbicara terlalu keras atau dengan menggunakan kekuatan
yang terlalu besar;
- Menjerit,
berteriak atau memekik;
- Memiliki
konsep tunjangan nafas yang salah;
- Teknik pernafasan
yang salah;
- Ketegangan
dan kekakuan pada postur;
- Memiliki
model suara yang salah;
- Ketegangan
yang berasal dari masalah psikologis – rasa ketakutan, inferioritas, tidak
aman, malu dan lain sebagainya.
Prosedur Perbaikan Untuk Fonasi Hiperfungsional.
Tujuan utama dari prosedur perbaikan ini adalah menghilangkan ketegangan yang berlebihan pada larynx. Karenanya, prosedur perbaikan ini harus dilaksanakan dengan teknik-teknik rileksasi. Disarankan juga agar guru vokal dapat menciptakan suatu suasana kelas yang dapat membuat siswa merasa rileks, sebuah suasana yang didasari oleh pemahaman yang simpatik dan perhatian yang tulus dalam memenuhi kebutuhan siswa. Prosedur perbaikan dapat dimulai dengan menerapkan rileksasi pada tubuh siswa. Pada tahap ini anda dapat menerapkan teknik-teknik yang telah dijelaskan sebelumnya.
Langkah pertama ialah: melakukan latihan-latihan pelenturan dan peregangan seperti: memutarkan kepala, menganggukkan kepala, memutar bahu, menggunggangkan lengan dan tangan, latihan-latihan untuk melemaskan rahang, bibir, lidah dan lain sebagainya. Langkah kedua adalah: mengamati postur siswa, memeriksa dengan seksama kelurusan serta kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan oleh adanya ketegangan pada postur.
Penyebab terjadinya ketegangan pada larynx biasanya disebabkan oleh pernafasan yang salah dan tunjangan nafas yang terlalu besar. Meskipun tampaknya pernafasan dan tunjangan nafas benar, guru harus tetap memeriksanya pada saat siswa yang bersangkutan menyanyi. Periksalah pengembangan yang terjadi pada bagian tengah tubuh siswa, pengaturan tunjangan nafas, dan cara mulai menyanyikan nada tanpa menarik bagian perut. Beberapa orang siswa mungkin dapat melakukan hal-hal tersebut pada saat ia tidak menyanyi, namun ia tetap akan memiliki kecendrungan untuk menghasilkan ketegangan pada saat ia menyanyikan nada-nada tinggi atau kalimat-kalimat panjang. Selalu terdapat godaan untuk menghirup nafas terlalu banyak dan menyimpannya didalam dada yang kesemuanya ini hanyalah merupakan suatu usaha yang sia-sia dalam menciptakan sistem penunjang nafas yang baik.
Membuat sebuah attack yang proporsional akan sulit dilakukan oleh orang yang memiliki ketegangan pada pita suara. Kecendrungan untuk memulai fonasi yang diiringi dengan letupan udara merupakan hasil dari glottis yang tertutup rapat dengan tekanan nafas yang meningkat sehingga pita suara terpisah secara kasar. Jenis attack seperti ini dikenal sebagai hard attack (attack yang kuat) atau tight attack (attack yang sempit), dan letupan udara yang menyertainya disebut sebagai glottal plosive (ledakan glottal) atau glottal attack (attack glottal). Attack yang keras merupakan sebuah gejala dari terdapatnya ketegangan pada larynx. Jika ketegangan ini terjadi telalu kuat, ia dapat merusak membran sensitif yang melindungi pita suara, serta menimbulkan ketegangan pada otot-otot larynx. Gesekan yang terjadi di vocal process pada saat tulang rawan-tulang rawan tengah berdekatan, serta ledakan glottal yang berulang-ulang dapat menghasilkan luka pada tulang-rawan tersebut. Vocal misuse dan vocal abuse merupakan faktor terbesar yang dapat menimbulkan terjadinya vocal nodules, polyps dan polypoid. Berdasarkan kenyataan inilah, maka seorang siswa haruslah terampil dalam menghasilkan suatu attack yang lembut dan berimbang.
Rahasia dari attack yang berimbang terletak pada adanya sinkronisasi antara tekanan nafas dengan penutupan glottis. Dalam attack yang sempit, pita suara berada dalam keadaan menutup terlebih dahulu baru kemudian tekanan nafas diaplikasikan. Dalam attack yang berimbang, nafas mengalir melalui pita suara sebelum pita suara mulai menutup. Dalam hal ini nafas dan pita suara beraksi secara simultan dalam menghasilkan suara yang bersih tanpa adanya ketegangan atau nafas yang terbuang percuma. Siswa harus selalu didorong agar terus berlatih menghasilkan attack yang lembut hingga pada akhirnya hal tersebut dapat menjadi suatu bagian yang aman dari teknik bernyanyinya.
Berikut ini adalah latihan rutin yang dirancang untuk tujuan tersebut:
Pertama, lakukan latihan rileksasi (seperti: memutar kepala, bahu dll.) untuk melemaskan otot-otot anda. Kemudian berdirilah di depan cermin dan perhatikan diri anda secara seksama apakah terlihat adanya tanda-tanda ketegangan pada tubuh anda. Sebelum anda mulai menghasilkan suara, ingatlah untuk selalu menghadirkan bayangan pitch, tingkat dinamik dan kualitas suara yang akan anda hasilkan terlebih dahulu. Kemudian hiruplah nafas dengan santai seperti yang anda lakukan pada saat awal menguap, kembangkan bagian tengah tubuh anda dan tahanlah nafas begitu paru-paru anda telah terasa penuh. Disaat anda akan memulai fonasi, biarkalah sistim penunjang nafas anda yang melakukannya dengan cara memulai nada hanya dengan memikirkan cara melakukannya. Berhati-hatilah untuk tidak menarik daerah perut anda secara sengaja. Sebutkan kata “wan” beberapa kali dengan memperpanjang konsonan “n” dan menyambungkannya dengan kata berikutnya secara tidak terputus. Pusatkan perhatian anda pada sensasi “getar” dari bunyi “n” dan sensasi suara yang dihasilkan setelah mengucapkan konsonan tersebut. Kemudian lakukan latihan tersebut kembali, namun kini tingkat nada menyanyi anda digantikan dengan tingkat nada berbicara. Jangan menarik bagian perut atau melakukan penekanan (aksen) pada setiap suku kata, biarkanlah setiap kata yang dihasilkan mengalir dan bersambung dan biarkan setiap “n” membawa nada suara anda ke kata berikutnya. Ulangi kembali latihan diatas dengan menggunakan kata “no, no, no” kemudian “ni, ni, ni” dan terakhir dengan menggunakan “nu, nu, nu”.
Guru harus selalu memonitor latihan ini hingga siswa dapat menghilangkan ketegangan pada larynxnya dan tidak mensuplai nafas terlalu banyak ke larynx. Mintalah siswa untuk membayangkan bahwa nada yang dihasilkannya dimulai di dalam kepalanya, bukan pada larynxnya. Cara ini akan membantunya untuk mengalihkan perhatian pada aktifitas larynx. Tekankan padanya tentang perlunya mempertahankan posisi awal menguap saat menyanyi, karena cara ini akan membantunya untuk menyanyi dengan rileks. Ini disebabkan karena larynx berada pada posisi terbaiknya pada saat menyanyi.
Huruf hidup (vokal) dan konsonan dapat digunakan untuk memperbaiki suara yang tercekik. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa huruf hidup frontal dapat digunakan untuk menghilangkan desahan nafas pada suara, sedangkan huruf-huruf belakang yang dihasilkan dengan memajukan bibir (seperti [o], dan [u]) merupakan huruf hidup yang memiliki ketegangan yang lebih kecil dibandingkan dengan huruf hidup frontal. Karenanya, huruf hidup jenis ini dapat digunakan untuk menghilangkan ketegangan pada daerah larynx. Kombinasi huruf hidup ini dengan aksi awal menguap merupakan aksi yang paling efektif untuk menghilangkan tensi pada larynx. Untuk mengurangi ketegangan pada rahang, serta untuk dapat menghasilkan suara yang bebas, mulailah menyanyikan huruf hidup ini dengan menggunakan bantuan konsonan “y” atau “m”, seperti: “yu”, “yu”, “yu”; “mu”, “mu”, “mu” dan lain sebagainya.
Indikator utama dari adanya ketegangan pada larynx adalah hilangnya vibrasi pada suara. Ketegangan ini hanya dapat dihilangkan jika anda telah dapat mengaplikasikan sistem penunjang nafas dengan baik. Dengan terbentuknya suatu sistem penunjang nafas yang baik, vibrasi pada suara akan muncul dengan sendirinya sebagai dampak yang positif. Jika anda vibrasi tidak juga muncul, maka anda harus menerapkan teknik-teknik khusus yang dapat digunakan untuk merangsang timbulnya vibrasi.
Pendekatan lain yang dapat anda gunakan untuk menghilangkan fonasi yang tercekik ini adalah dengan menggunakan penggunaan efek nafas untuk menghasilkan suara. Teknik ini diperkenalkan oleh William Vennard dengan cara meminta siswanya untuk memulai sebuah suara dengan konsonan [h] yang berlebihan dan diikuti dengan pengucapan huruf hidup secara tegas dan bersih. Cara memulai fonasi seperti ini harus kurangi secara bertahap, seiring dengan membaiknya cara attack siswa yang bersangkutan. Selanjutnya konsonan [h] hanya dilakukan secara imajinatif saja. Seorang ahli vokal, WilliamVennard sering menggunakan latihan yang ia dinamakan “tanda-menguap” untuk menunjang teknik ini. Caranya mudah, mintalah siswa mengeluh seperti pada saat mereka kelelahan. Dengan cara ini siswa akan mengalami tiga fase perubahan suara: dari suara yang tercekik, menjadi suara yang mengandung nafas dan pada akhirnya menjadi suara yang benar.
KESIMPULAN DARI PROSEDUR PERBAIKAN:
Bagi Fonasi Yang Tercekik (Hiperfungsional)
- Melakukan
latihan rileksasi pada seluruh tubuh;Menciptakan suasana kelas yang
kondusif untuk menciptakan rasa nyaman dan percaya diri pada siswa;
- Membentuk
postur yang baik dan kebiasaan bernafas yang baik, jika diperlukan;
- Mengurangi
ketegangan yang berlebihan pada mekanisme penunjang nafas;
- Mempertahankan
posisi awal menguap;
- Melakukan
latihan-latihan untuk menghasilkan attack yang berimbang dan halus;
- Membuat
siswa mengerti akan jenis suara yang akan dicapai;
- Melakukan
vokalisi dengan menggunakan huruf hidup dengan bibir menonjol kedepan
(huruf hidup belakang);
- Melakukan
vokalisi dengan menggunakan konsonan yang dapat memantu membebaskan
rahang;
- Dengan menggunakan efek desah nafas pada saat memulai fonasi.
No comments:
Post a Comment
Setelah baca Tolong kasih komentarnya ya!