Komet Halley adalah
suatu komet yang terlihat dari bumi setiap 75-76 tahun. Secara resmi diberi nama 1P/Halley, nama umumnya diberikan
menurut nama Edmund Halley .Komet
ini merupakan komet paling terkenal di antara komet-komet periodik lainnya.
Walaupun pada setiap abad banyak
komet berperiode panjang yang muncul dengan lebih terang dan dahsyat, Halley
adalah satu-satunya komet dengan periode pendek yang tampak dengan mata
telanjang, dan karenanya merupakan komet
yang tampak dengan mata telanjang yang
pasti kembali dalam rentang umur manusia. Kemunculannya sepanjang sejarah
memiliki pengaruh yang besar terhadap sejarah manusia, walaupun penampakannya
tidak dikenali sebagai obyek yang sama sampai abad ke-17. Dan sejumlah bukti baru menunjukkan bahwa
peristiwa langit yang telah disaksikan orang Yunani kuno, kemungkinan merupakan penampakan awal
komet Halley. Dijelaskan, sebuah
Meteor raksasa telah menghantam
Yunani antara 466 SM dan 467 SM. Komet Halley terlihat selama hampir 80 hari pada
466 SM, para peneliti menulisnya dalam jurnal kosmologi .Menurut laporan, New Scientist hingga kini, awal terlihatnya komet tersebut
adalah saat mengorbit pada 240 SM, sebuah peristiwa yang dicatat oleh para
astronom Tiongkok kuno. Komet
Halley terakhir muncul di tata surya pada tahun 1986, dan akan muncul kembali pada pertengahan 2061.
Edmun Halley, astronom dan
matematikawan Inggris, adalah orang
pertama yang mempelajari komet tersebut dan kemudian percaya bahwa komet tersebut adalah
komet periodik, yang datang tiap beberapa tahun. Ia melakukan pengamatan
terhadap komet tersebut pada tahun 1682. Setelah yakin bahwa objek yang diamati
memiliki kesamaan dengan dua komet yang diamati Petrus Apianus pada tahun 1531
dan yang diamati Johannes Kepler di
Praha pada 1607, Halley kemudian berkesimpulan bahwa tiga komet tersebut adalah
objek yang sama dan akan selalu muncul tiap 76 tahun .
Bakat luar biasa Halley sudah terlihat sejak ia masih kanak-kanak. Halley lahir tanggal 8 November 1656, dari sebuah keluarga kaya raya di Haggerston, Shoredith, dekat London, Inggris. Ayahnya, yang bernama sama dengannya, Edmond Halley, adalah seorang pengusaha pembuat sabun dan menjual produknya ke seluruh Eropa. Namun, pada saat Halley berusia 10 tahun, ayahnya jatuh bangkrut menyusul terjadinya kebakaran besar yang menghanguskan harta benda milik mereka. Meski demikian, sang ayah tetap berusaha memberi pendidikan terbaik kepada anaknya dengan menyekolahkan Halley ke sekolah pilihan, St. Paul. Saat di sekolah inilah Halley memperlihatkan bakatnya yang luar biasa, memiliki kemampuan sama hebatnya untuk musik klasik dan matematika, mengobservasi perubahan dalam variasi kompas dan mempelajari benda-benda antariksa.
Bakat luar biasa Halley sudah terlihat sejak ia masih kanak-kanak. Halley lahir tanggal 8 November 1656, dari sebuah keluarga kaya raya di Haggerston, Shoredith, dekat London, Inggris. Ayahnya, yang bernama sama dengannya, Edmond Halley, adalah seorang pengusaha pembuat sabun dan menjual produknya ke seluruh Eropa. Namun, pada saat Halley berusia 10 tahun, ayahnya jatuh bangkrut menyusul terjadinya kebakaran besar yang menghanguskan harta benda milik mereka. Meski demikian, sang ayah tetap berusaha memberi pendidikan terbaik kepada anaknya dengan menyekolahkan Halley ke sekolah pilihan, St. Paul. Saat di sekolah inilah Halley memperlihatkan bakatnya yang luar biasa, memiliki kemampuan sama hebatnya untuk musik klasik dan matematika, mengobservasi perubahan dalam variasi kompas dan mempelajari benda-benda antariksa.
Pada usianya 17 tahun, Halley masuk ke Queen’s College Oxford (1673). Ketika masuk,
Halley seolah sudah mempersiapkan diri sebagai seorang pakar astronomi dengan
sejumlah peralatan yang memadai yang dibeli oleh ayahnya. Ia mulai bekerja
dengan John Flamsteed pada 1675, seorang astronom Royal Society London, yang
membantunya dengan berbagai pengamatan. Dalam kertas kerjanya yang
dipublikasikan di the Philosophical Transaction of the Royal Society pada 1675,
John Flamsteed memperkenalkan Edmon Halley, seorang anak muda penuh bakat dari
Oxford, yang hadir pada berbagai pengamatan dan membantu Flamsteed secara
hati-hati dalam banyak kegiatan pengamatan.
Halley membuat pengamatan penting di Oxford, termasuk terjadinya gerhana Mars oleh Bulan pada 21 Agustus 1676 yang dipublikasikan di Philosophical Transactions of the Royal Society. Namun, ia menghentikan pendidikan pada November 1676 dan berlayar ke Pulau St. Helena, wilayah di sebelah selatan ekuator. Kepergiannya ke St. Elena tampaknya terkait dengan pembukaan Royal Observatory di Greenwich pada tahun 1675. Saat itu, Flamsteed mendapat tugas melakukan pemetaan mengenai bintang-bintang di bumi belahan selatan dan Halley diputuskan melengkapi program tersebut dengan tugas yang harusnya dikerjakan John Flamsteed.
Sayangnya, tugas tersebut tidak didukung pendanaan yang memadai. Halley hanya mendapat dukungan dari sang ayah dan dari sedikit orang yang disurati oleh Raja Charles II di East India Company agar mebantu Halley dan koleganya di St. Elena. Orang penting lainnya yang mendukung Halley adalah Brouncker, Presiden the Royal Society dan Jonas Moore yang sangat berpengaruh dalam pendirian the Royal Observatory di Greenwich. Meski menghadapi berbagai kendala selama di St. Elena, namun setelah bekerja selama 18 bulan Halley berhasil menyusun daftar 341 bintang di belahan selatan ekuator dan menemukan gugusan bintang pada rasi Centaurus.
Halley membuat pengamatan penting di Oxford, termasuk terjadinya gerhana Mars oleh Bulan pada 21 Agustus 1676 yang dipublikasikan di Philosophical Transactions of the Royal Society. Namun, ia menghentikan pendidikan pada November 1676 dan berlayar ke Pulau St. Helena, wilayah di sebelah selatan ekuator. Kepergiannya ke St. Elena tampaknya terkait dengan pembukaan Royal Observatory di Greenwich pada tahun 1675. Saat itu, Flamsteed mendapat tugas melakukan pemetaan mengenai bintang-bintang di bumi belahan selatan dan Halley diputuskan melengkapi program tersebut dengan tugas yang harusnya dikerjakan John Flamsteed.
Sayangnya, tugas tersebut tidak didukung pendanaan yang memadai. Halley hanya mendapat dukungan dari sang ayah dan dari sedikit orang yang disurati oleh Raja Charles II di East India Company agar mebantu Halley dan koleganya di St. Elena. Orang penting lainnya yang mendukung Halley adalah Brouncker, Presiden the Royal Society dan Jonas Moore yang sangat berpengaruh dalam pendirian the Royal Observatory di Greenwich. Meski menghadapi berbagai kendala selama di St. Elena, namun setelah bekerja selama 18 bulan Halley berhasil menyusun daftar 341 bintang di belahan selatan ekuator dan menemukan gugusan bintang pada rasi Centaurus.
Dari sisi pencapaian, ia cukup spektakuler. Bayangkan
saja, di usianya yang relatif muda, 26 tahun, ia sudah berani mengambil
kesimpulan ada satu komet yang datang secara periodik setiap 76 tahun. Saat itu
Halley sudah menjadi anggota Royal Society Kerajaan Inggris, sebuah institusi
prestisius di bidang ilmiah yang di dalamnya duduk para jenius dari berbagai
bidang keilmuan. Umumnya anggota Royal Society adalah para ilmuwan yang sudah
berumur, sehingga keanggotaan Halley di usia yang demikian belia merupakan
prestasi tersendiri. Karena prestasinya itulah, Halley kemudian menjadi sangat
terkenal dan mencapai kemashuran .
Namun, kemashuran yang dicapai dengan relatif cepat
dan mudah itulah yang kemudian justru mendorong Halley masuk dalam sebuah
“intrik” dan rivalitas dengan senior dan mentornya, Flamsteed. Flamsteed yang
dikenal sebagai astronom Royal Society berkali-kali menyerang Halley.
Demikian pula sebaliknya, Halley yang sebelumnya cenderung menghindar, menyerang balik dengan menyebut Flamsteed sebagai ilmuwan yang melempem, introvert, dan kehilangan rasa social. Karena kedekatannya dengan Sir Issac Newton, Halley juga harus terlibat kontroversi dengan Leibniz, matematikawan Jerman, dalam menentukan siapa sebenarnya penemu kalkulus, Newton atau Leibniz. Halley dikenal sangat dekat dengan Issac Newton.
Sejak tahun 1696 Halley secara hati-hati melakukan studi terhadap orbit komet. Menurut Newton, orbit komet berbentuk parabola, namun Halley percaya orbit eliptikal bisa saja terjadi. Dengan menggunakan teorinya mengenai orbit komet, Halley menghitung bahwa komet yang muncul tahun 1682 (sekarang disebut komet Halley) adalah komet periodic dan objek yang sama sebagai komet yang muncul pada tahun 1531 dan 1607. Lalu, ia juga mengidentifikasi komet ini sebagai komet yang sama muncul pada 1305, 1380, dan 1456. Pada tahun 1705 ia memublikasikan prediksinya dalam Synopsis Astronomia Cometicae bahwa komet tersebut akan kembali muncul setiap 76 tahun, seraya menyebutkan bahwa komet diperkirakan akan muncul kembali pada Desember 1758.
Perhitungan yang dilakukan Halley jelas bukan pekerjaan yang mudah karena ia harus mempertimbangkan terlebih dahulu gangguan orbit oleh planet Jupiter. Meski Halley tidak sempat menyaksikan komet yang sudah ia prediksi kemunculannya karena ia meninggal pada tanggal 25 Januari 1742, namun ia kemudian mencapai ketenaran abadi ketika komet tersebut teramati pada tanggal 25 Desember 1758. Sebuah pencapaian yang melebihi apa yang diharapkan oleh Halley sendiri. Edmond Halley termasuk salah satu astronom yang mashur. Meski jasadnya sudah terbujur kaku di Gereja St. Margaret di Lee, sebelah tenggara Kota London, namanya akan dikenang sepanjang masa.
Demikian pula sebaliknya, Halley yang sebelumnya cenderung menghindar, menyerang balik dengan menyebut Flamsteed sebagai ilmuwan yang melempem, introvert, dan kehilangan rasa social. Karena kedekatannya dengan Sir Issac Newton, Halley juga harus terlibat kontroversi dengan Leibniz, matematikawan Jerman, dalam menentukan siapa sebenarnya penemu kalkulus, Newton atau Leibniz. Halley dikenal sangat dekat dengan Issac Newton.
Sejak tahun 1696 Halley secara hati-hati melakukan studi terhadap orbit komet. Menurut Newton, orbit komet berbentuk parabola, namun Halley percaya orbit eliptikal bisa saja terjadi. Dengan menggunakan teorinya mengenai orbit komet, Halley menghitung bahwa komet yang muncul tahun 1682 (sekarang disebut komet Halley) adalah komet periodic dan objek yang sama sebagai komet yang muncul pada tahun 1531 dan 1607. Lalu, ia juga mengidentifikasi komet ini sebagai komet yang sama muncul pada 1305, 1380, dan 1456. Pada tahun 1705 ia memublikasikan prediksinya dalam Synopsis Astronomia Cometicae bahwa komet tersebut akan kembali muncul setiap 76 tahun, seraya menyebutkan bahwa komet diperkirakan akan muncul kembali pada Desember 1758.
Perhitungan yang dilakukan Halley jelas bukan pekerjaan yang mudah karena ia harus mempertimbangkan terlebih dahulu gangguan orbit oleh planet Jupiter. Meski Halley tidak sempat menyaksikan komet yang sudah ia prediksi kemunculannya karena ia meninggal pada tanggal 25 Januari 1742, namun ia kemudian mencapai ketenaran abadi ketika komet tersebut teramati pada tanggal 25 Desember 1758. Sebuah pencapaian yang melebihi apa yang diharapkan oleh Halley sendiri. Edmond Halley termasuk salah satu astronom yang mashur. Meski jasadnya sudah terbujur kaku di Gereja St. Margaret di Lee, sebelah tenggara Kota London, namanya akan dikenang sepanjang masa.
No comments:
Post a Comment
Setelah baca Tolong kasih komentarnya ya!